oleh

PBB Tingkatkan Dukungan untuk Vaksinasi Difteri bagi anak-anak Pengungsi Rohingya di Bangladesh

PENANEGERI, Kesehatan  – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendukung  sebuah kampanye untuk imunisasi bagi anak-anak pengungsi Rohingya terhadap penyakit  difteri, yang dimulai pada hari Selasa 12 Desember 2017 di Bangladesh.

Imunisasi ini menyusul adanya sebuah wabah difteri yang mengakibatkan sembilan orang meninggal di kamp-kamp pengungsi dan permukiman darurat yang menampung para pengungsi Rohingya ini dari Myanmar.

“Wabah ini menunjukkan peningkatan yang tajam dalam kasus, sebuah indikator kerentanan anak-anak yang sangat parah […] Hal ini menuntut tindakan segera untuk melindungi mereka dari penyakit pembunuh ini,” kata Edouard Beigbeder, Perwakilan UN Children’s Fund (UNICEF) di Bangladesh, seperti dirilis oleh situs berita resmi PBB, Selasa (12/12).

Vaksinasi yang dipimpin oleh Pemerintah akan diberikan kepada  hampir 255.000 orang  anak-anak pengungsi Rohingya, dan didukung oleh UNICEF, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan GAVI, the Vaccine Alliance.

Data terakhir dari WHO dan Médecins Sans Frontières (MSF) menunjukkan adanya 722 kasus difteri yang mungkin terjadi, yang mengakibatkan sembiklan orang meninggal, di kamp-kamp dan permukiman pengungsian darurat, antara 12 November dan 10 Desember 2017.

Baca Juga  Sedikitnya 400 Orang Kaum Muslim Rohingnya Tewas di Myanmar

“Kami bergerak cepat untuk mengendalikan wabah difteri ini sebelum berputar di luar kendali. Vaksin tersebut akan membantu melindungi setiap anak Rohingya di pemukiman sementara ini agar tidak menjadi korban penyakit mematikan tersebut. Di luar vaksinasi, kami membantu petugas kesehatan untuk menangani kasus dugaan secara klinis, melacak kontak mereka, dan memastikan persediaan obat yang memadai, “kata Navaratnasamy Paranietharan, Perwakilan WHO di Bangladesh.

WHO menyediakan 2.000 dosis diphtheria anti-toxins untuk mengobati pasien difteri. Hampir 345 dosis disediakan oleh WHO dari Delhi, India ke Cox’s Bazar di Bangladesh.

Difteri adalah penyakit pernapasan menular yang disebabkan oleh infeksi dari strain bakteri Corynebacterium diphtheriae tertentu.

Penyakit difteri ini menyebar melalui  droplets atau liur di udara dari batuk atau bersin.

Faktor risiko meliputi kepadatan penduduk, kebersihan yang buruk, dan kurangnya imunisasi.

Menurut Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan  (UN Office for the Coordination of Humanitarian Affairs – OCHA), ada hampir 860.000 pengungsi Rohingya di Cox’s Bazar – yang 646.000 telah tiba sejak 25 Agustus 2017.

Baca Juga  PBB: Sudah 270.000 Rohingya Melarikan Diri ke Bangladesh dalam Dua Minggu

Cepatnya arus masuk para pengungsi pendatang baru sejak 25 Agustus 2017 ini membuat krisis pengungsi ini merupakan krisis pengungsi yang paling cepat berkembang di dunia, konsentrasi pengungsi di Cox’s Bazar sekarang termasuk yang paling padat di dunia.

Mengingat kondisi kehidupan yang padat dan tidak sehat, populasi pengungsi sangat rentan terhadap wabah penyakit, maka masalah permukiman merupakan prioritas mendesak, demikian jelas UN Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA). (*)

Komentar

Berita Terbaru