oleh

Pekerja Tuntut Sisa Pembayaran Upah Kerja Proyek Saluran Irigasi di Peudada Bireuen

PENANEGERI, Bireuen – Sejumlah pekerja proyek pembangunan jaringan irigasi bendungan Aneuk Gajah Rhet, Desa Lawang, Kecamatan Peudada, Kabupaten Bireuen menuntut sisa upah yang belum dilunasi pelaksana proyek tersebut.

Tak hanya persoalan upah pekerjaan yang dilaksanakan masyarakat di desa setempat, uang sisa bahan material milik masyarakat yang dipasok selama pembangunan proyek tersebut juga belum dilunasi oleh pihak rekanan atau dinas terkait.

Proyek pembangunan jaringan bendungan irigasi Aneuk Gajah Rhet tersebut bersumber dari anggaran Otonomi khusus (Otsus) 2018 senilai Rp 27 miliar itu hingga belum juga rampung dikerjakan.

Menurut sejumlah pekerja proyek tersebut kepada wartawan, Minggu (15/12) menjelaskan, hingga sejauh ini upah pekerjaan kami belum seluruhnya dilunasi, termasuk bahan material milik warga yang selama ini telah mempasok saat pembangunan.

“Kalau saya sendiri masih tersisa upah pekerjaan sebesar Rp 23 juta, tapi hingga sejauh ini belum juga dilunasi,” ujar Safwan (49) seorang tukang di Desa Lawang, Peudada, Bireuen.

Hal senada juga diakui Abdullah Ismail warga lainnya yang juga ikut mempemasok bahan material saat pembangunan proyek tersebut.

“Sedangkan dana sisa bahan material yang belum dibayar untuk saya mencapai Rp 38,6 juta, dan saya masih menyimpan bukti-bukti jumlah sisa upah dan sisa material yang belum terbayar,” sebut Abdullah Ismail.

Untuk itu, kami para tukang serta pemasok bahan material tetap akan menuntut dibayarnya sisa selurunya dari pihak rekanan serta Dinas Pengairan Aceh.

Keuchik Desa Lawang, Peudada, Bireuen, Azhar S.Kom didampingi para tukang dan pemasok material lainnya mengaku, pembangunan saluran dan jaringan irigasi Aneuk Gajah Rheut sekitar 3,7 kilometer  mulai dikerjalan sejak 2018 hingga awal 2019.

Dijelaskan Azhar, pelaksanaan proyek ini bersumber dari anggaran Otonomi khusus (Otsus) 2018 sebesar Rp 27 miliar melalui Dinas Pengairan Aceh.

“Tetapi jaringan irigasi ini hingga kini belum bisa difungsikan, karena pekerjaannya belum seluruhnya rampung dilaksanakan oleh pihak rekanan, termasuk belum dilunasinya upah pekerja dan uang bahan meterial,” ungkapnya.

Kalau sisa upah tukang dan pekerja serta bahan material milik masyarakat yang belum dilunasi mencapai Rp 600 juta.

“Kami sudah dua kali ke Dinas Pengairan Aceh,  meminta kejelasan terkait sisa upah dan material kami yang belum dibayar. Namun sudah setahun belakangan ini belum ada juga kejelasan,” sebutnya

Untuk itu, kami minta dinas terkait untuk segera melakukan pembayaran seluruh sisa upah yang masih tersangkut dengan pekerja, termasuk masalah uang bahan material masyarakat juga bahan material miliknya.

“Seluruh pekerja dan warga yang telah mempasok bahan material ini memiliki bukti yang belum terbayar, termasuk bahan material milik saya juga belum seluruhnya terbayar,” pungkasnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *