oleh

Pemasangan Detektor Logam di Al-Aqsa Melanggar HAM

PENANEGERI, Desk Internasional – Turki mengatakan pada hari Senin (24/7) bahwa Israel telah melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) di kompleks masjid al-Aqsa, Yerusalem dan meminta kekuatan global internasional untuk mengambil sikap bersatu sebagai tanggapan.

Selama 10 hari belakangan ini, kota tua Yerusalem telah berada dalam cengkeraman susana mencekam  dan pertumpahan darah terburuk selama ini, karena keputusan Israel untuk memasang detektor logam di pintu masuk kompleks suci Al-Aqsa di Kota Tua Yerusalem.

Mungkin banyak pembaca bertanya-tanya bagaimana masalah detektor logam ini dapat menyebabkan kekerasan berkepanjangan seperti ini di Palestina ?

Namun seperti halnya apapun yang berhubungan dengan politik dan agama di Tanah Suci, perselisihan ini lebih dari sekadar perangkat keamanan itu sendiri atau bukan hanya masalah detektor logam semata, masalah ini rupanya telah menyentuh isu-isu (masalah) kedaulatan, kebebasan beragama, pekerjaan dan nasionalisme Palestina.

Mengapa, Dimana dan Kapan Detektor Logam Dipasang?

Israel memasang perangkat tersebut pada 16 Juli, dua hari setelah dua polisi Israel ditembak dan dibunuh oleh penyerang Israel-Arab yang telah menyembunyikan senjata di kompleks tersebut di jantung Kota Tua.

Hal ini diketahui umat Islam sebagai Tempat Suci, dimana Masjid Aqsa berada, dan kepada orang Yahudi sebagai Temple Mount, tempat tersuci dalam Yudaisme, tempat kuil kuno pernah berdiri. Juga tempat keberadaan Dome Of Rock yang ikonik dan historis itu.

Detektor logam diletakkan di pintu masuk yang digunakan umat Islam untuk masuk ke kompleks setiap hari untuk sholat. Pengunjung Non-Muslim diizinkan untuk mengunjungi daerah tersebut sebagai turis dan mereka masuk melalui gerbang terpisah dimana detektor logam telah lama digunakan.

Isu pertama adalah konsultasi. Orang-orang Palestina mengatakan bahwa mereka tidak diberi tahu oleh orang Israel tentang detektor.  Israel mengatakan bahwa mereka menginformasikan Yordania, penjaga situs suci tersebut. Namun  akibat langkah-langkah yang diberlakukan dengan cepat ini, langsung  memiliki dampak sensitif pada orang-orang Palestina.

Seperti diketahui dalam sejarah, Israel merebut Yerusalem Timur, termasuk Kota Tua, dalam perang Timur Tengah  tahun 1967, perebutan ini sebuah langkah yang tidak diakui secara internasional. Akibatnya, sampai hari ini banyak orang melihat dunia sebagai penghuni, dan status daerah tersebut dianggap sengketa sampai diselesaikan melalui negosiasi.

Oleh karena itu orang-orang Palestina menolak otoritas Israel, kehadiran keamanannya yang berat dan langkah sepihak pada detektor logam.

Turki Memprotes Keras Detektor Logam

Turki mengatakan pada hari Senin (24/7) bahwa Israel telah melanggar hak asasi manusia di kompleks Masjid al-Aqsa di Yerusalem dan meminta kekuatan global untuk mengambil sikap bersatu sebagai tanggapan.

Sedangkan Israel mengatakan pada hari Minggu bahwa pihaknya tidak akan menghapus detektor logam yang pemasangannya di luar al-Aqsa telah memicu bentrokan berdarah dengan orang-orang Palestina selama bertahun-tahun. Namun dikatakan oleh pihak Israel bahwa pada nantinya  bisa mengurangi penggunaan detektor tersebut.

“Sikap Israel atas al-Aqsa salah, tidak sah dan tidak dapat diterima,” kata Wakil Perdana Menteri dan juru bicara pemerintah Turki, Bekir Bozdag setelah sebuah rapat kabinet.

“Tindakan Israel di sana melanggar hak asasi manusia dan kebebasan beragama dan beriman,” katanya. “Kami meminta masyarakat internasional untuk mengambil sikap bersatu melawan Israel,” pinta Wakil PM Turki tersebut. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *