oleh

Pemko Langsa Gelar FGD Penyusunan Map Destinasi Wisata

-Aceh-44 views

PENANEGERI, Langsa – Pemerintah Kota (Pemko) Langsa menggelar Focus Group Discussion (FGD) penyusunan Map Destinasi Wisata terhadap Bio Diversity yang ada dalam kawasan hutan Manggrove (burung migran dan lumba-lumba), Jumat (16/8), di Kantor LSM Bale Juroeng.

Asisten I Pemko Langsa, Suriyatno, AP. MSP, disela-sela kegiatan tersebut kepada Penanegeri.com, menuturkan, saat ini Pemko Langsa bersama LSM peduli lingkungan akan melakukan konservasi manggrove berbasis kesejahteraan. Artinya, kita akan mendorong secara bertahap agar masyarakat tidak lagi menebang hutan manggrove, tapi beralih memanfaatkan hasil hutan manggrove non kayu yang diolah menjadi berbagai sumber pangan untuk peningkatan ekonomi masyarakat, seperti syrup, dodol, manisan, kerupuk maupun pewarna batik dengan tetap menjaga kelestarian hutan manggrove yang ada.

Dijelaskannya, program ini dilatar belakangi banyaknya penebangan hutan manggrove secara serampangan, kemudian Kota Langsa mempunyai sekitar 5000 hektare hutan manggrove dan ada tantangan perubahan iklim bahwa telah terjadi peningkatan permukaan air laut sehingga terancamnya ketersediaan air baku.

Sementara itu, dalam materinya, Suriyatno menyampaikan, bahwa keberadaan hutan manggrove yang ada di Kota Langsa, jika tidak dikelola dengan baik maka dapat menimbulkan kerusakan manggrove dan pesisir Kota Langsa. Karenanya, kolaborasi, empowering dan sinergi dari seluruh stakeholder dalam mendukung secara bersama peralihan dari menebang kayu manggrove berubah memanfaatkanhasil manggrove non kayu untuk kelangsungan hidup masyarakat, menggali Bio Diversity yang ada merupakan kunci keberhasilan dan kesiapan organisasi pemerintah yang agail/adaptif dalam proses ini.

Baca Juga  Wakil Walikota Langsa Perintahkan Geuchik Gelar Safari Subuh

Selain itu, edukasi tentang lingkungan sejak dini bagi anak-anak sekolah PAUD/SD/SMP menjadi alternatif solusi memutus mata rantai penebangan manggrove secara serampangan yang terjadi pada saat ini.

“Mudah-mudahan dengan FGD, kita bisa memberi pemahaman kepada masyarakat agar tidak lagi melakukan penebangan manggrove secara serampangan tapi bisa memanfaatkannya dengan baik,” tutupnya.

Acara tersebut dihadiri oleh LSM peduli lingkungan yakni LSM Bale Juroeng, LSM Geprak dan Kabag Pemerintahan, perwakilan Dinas Lingkungan Hidup, perwakilan Dinas PUPR dan relawan lingkungan, Doli Hutajulu.

Komentar

Berita Terbaru