oleh

Penelusuran LSM, Penyunatan Kegiatan Festival Leuser Agara Mencuat Ke Publik

PENANEGERI, Aceh Tenggara – Isu miring dugaan penyunatan beberapa item kegiatan event tahunan Festival Leuser Agara tahun anggaran 2018, yang dilaksanakan pada 26-30 Oktober 2018 lalu, mencuat ke publik.

Mencuatnya isu tersebut berdasarkan investigasi dan penelusuran marathon yang dilakukan LSM Gerakan Peduli Lingkungan dan Anti Korupsi di Aceh Tenggara (Agara) bersama awak media, sehingga persoalan dugaan penyunatan beberapa kegiatan event tahunan itu mencuat ke publik.

Melalui siaran persnya, Ketua LSM, Amri Sinulingga, Senin (12/11), secara gamblang membeberkan, bahwa informasi dugaan penyunatan beberapa item kegiatan di Ajang Festival Leuser Agara tahun 2018 itu diantaranya, soal biaya makan, pembelian spanduk, pembagian hadiah dan piagam serta uang pembinaan.

“Sesuai kontrak, untuk biaya makan berdasarkan informasi, seharusnya pihak panitia menyiapkan sedikitnya 200 bungkus nasi selama lima hari pergelaran festival, dengan harga perbungkusnya sebesar Rp 22.000. Faktanya, pihak panitia hanya menyiapkan 100 nasi bungkus dengan harga Rp 10.000. Selebihnya, tentu diduga kuat masuk ke kantong pribadi oknum panitia penyelenggara,” tuding Amri.

Sambungnya, begitu juga dengan pembelian spanduk, diduga kuat pihak panitia dengan sengaja tidak membeli atau menempah spanduk pada kegiatan itu. Padahal diyakini, pembelian spanduk ada di dalam kontrak.

“Lebih mengherankan, untuk hadiah para pemenang pun diduga kuat ikut disunat pihak panitia. Sesuai dengan penuturan para pemenang, kami menduga hadiah yang diberikan berupa tropy dan piagam serta uang pembinaan, sangat tidak sesuai. Hal itu terlihat, hadiah yang dibagikan sepertinya bukan hadiah sekelas Festival yang lazimnya kita lihat, melainkan seperti hadiah yang diberikan kepada anak-anak sekolah saja,” kesal Amri.

Menyikapi masalah ini, Irma Ibrahim selaku Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) kegiatan tersebut, saat dihubungi wartawan melalui selulernya, tidak berkomentar banyak.

“Memang benar, kegiatan festival ini bersumber dari DOKA tahun 2018, dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh. Namun, soal inplementasinya dilapangan, yang paling tau persis adalah PPTK dan Ketua Panitia pelaksana, dalam hal ini Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Tenggara, yaitu pak Zulkifli,” tutur Irma, seraya meminta awak media untuk menanyakan kepada Kadis tersebut.

Namun, saat dilakukan konfirmasi terhadap Kadis Kebudayaan dan Pariwisata, Zulkifli, melalui selulernya tidak berhasil dihubungi. Bahkan saat dihubungi melalui SMS dan WhatsApp nya, juga tidak dibalas hingga berita ini ditayangkan.

Tidak kooperatifnya Kadis tersebut, tak ayal membuat Ketua LSM Gerakan Peduli Lingkungan dan Anti Korupsi, Amri Sinulingga kembali angkat bicara, begitulah tipe dan model kepala dinas. Jika tidak siap mengemban jabatan publik, terlebih sebagai Kepala Dinas, lebih baik mundur saja.

“Saya harap pak Bupati Aceh Tenggara, Raidin Pinim, bisa melihat fenomena ini dan bisa mengevaluasi jabatan Kadis Pariwisata Agara tersebut. Terlebih, dugaan penyunatan beberapa item kegiatan Festival ini, masuk ke kantong pribadi oknum pihak panitia. Alhasil, begitu aroma permainan kotornya tercium dan mencuat, mereka cepat-cepat sembunyi seperti siluman nyaris tanpa jejak,” pungkas Amri Sinulingga.

Komentar

Berita Terbaru