oleh

Pengungsi Muslim Rohingya terus Banjiri Bangladesh

PENANEGERI, Desk Internasional – Sedikitnya 20.000 orang muslim Rohingya sudah melarikan diri, mengungsi ke Bangladesh dari tekanan kekerasan di Myanmar.

Aliran pengungsi terjadi di tengah kekerasan di Myanmar, serta suara keprihatinan masyarakat internasional yang mengungkapkan kepedulian terhadap keamanan sipil masyarakat etnis Rohingya.

Sedikitnya 18.500 Muslim Rohingya terlantar di pengungsian di Bangladesh. Diantaranya kondisinya sangat memprihatinkan banyak yang sakit dan beberapa lagi menderita luka akbat terkena tembakan peluru tajam.

Para kaum muslim Rohingya ini telah melarikan diri ke Bangladesh dalam enam hari terakhir di tengah pertempuran baru yang berkecamuk di Myanmar barat.

Angka-angka jumlah pengungsi yang kian meningkat yang telah dicatat Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM-International Organization for Migration) pada hari Rabu (30/8) menimbulkan meningkatnya kekhawatiran oleh masyarakat internasional akan situasi kekerasan yang berkembang di Rakhine.

Banyak organisasi kemanusiaan khawatir bahwa desa-desa kaum Rohingya telah terkena hukuman kolektif, setelah sebuah kelompok bersenjata bernama Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA), pada tanggal 5 Agustus menyerang pos polisi dan sebuah pangkalan militer di negara bagian Rakhine.

Pada hari-hari setelah serangan tersebut, tentara Myanmar telah membakar daerah-daerah di negara bagian Rakhine dan menembaki warga sipil, menurut kelompok hak asasi manusia dan saksi mata.

Sementara Muslim Rohingya sebagian besar telah melarikan diri ke Bangladesh, sedangkan umat Buddha Rakhine sebagian besar mencari suaka di kota dan vihara di selatan dan timur pertempuran.

“Sampai semalam, 18.500 orang telah lari dari negara bagian Rakhine Myanmar”, ujar Chris Lom, juru bicara IOM Asia Pasifik, mengatakan kepada kantor berita AFP.

Lom mengatakan bahwa angka pastinya sulit didapat karena banyak dari mereka berhasil masuk ke Bangladesh.
“Kami juga tahu ada orang yang terjebak di perbatasan tapi kami tidak tahu berapa jumlahnya,” kata Lom.

Bangladesh, yang telah menampung sekitar 400.000 Rohingya yang telah meninggalkan Myanmar selama bertahun-tahun, telah berjanji untuk memblokir pendatang baru dan telah mendeportasi beberapa dari mereka yang berhasil menangkap persimpangan tersebut.

“Mereka berada dalam kondisi yang sangat sangat menyedihkan,” kata Sanjukta Sahany, petugas yang mengelola kantor IOM di kota selatan Cox’s Bazar di dekat perbatasan.

“Mereka membutuhkan setidaknya beberapa pakaian, dan atap di atas kepala mereka,” jelasnya.

Sahany mengatakan banyak yang melintas perbatasan untuk lari mengungsi “dengan kondisi luka tembak dan luka bakar,” dan bahwa pekerja bantuan tersebut melaporkan bahwa beberapa pengungsi “hanya menatap dengan pandangan kosong” saat ditanyai.

“Orang-orang trauma, yang cukup terlihat,” ujarnya.

Rakhine Utara telah mendapat isolasi sejak Oktober tahun lalu ketika sekelompok pejuang Rohingya yang sebelumnya tidak dikenal menyergap serangkaian pos perbatasan di dalam Myanmar.

Hal itu memicu sebuah respon militer yang besar, yang menyebabkan sekitar 87.000 orang Rohingya melarikan diri ke Bangladesh, membawa serta kisah-kisah mengerikan tentang pembunuhan, pemerkosaan dan desa-desa yang terbakar.

Data satelit yang baru-baru ini diakses oleh Human Rights Watch menunjukkan kebakaran yang meluas, wilayah terbakar di setidaknya 10 wilayah di Rakhine.

Pihak berwenang Myanmar mengatakan bahwa “teroris ekstremis Rohingya” telah melancarkan baku tembak saat berperang dengan pasukan pemerintah, sementara kaum Rohingya telah menyalahkan tentara Myanmar yang telah dituduh melakukan pembunuhan di luar hukum. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *