oleh

Pengungsi Rohingya di Bireuen Minta Pindah

PENANEGERI, Bireuen – Sebanyak 79 jiwa pengungsi Rohingya, Myanmar yang selama ini ditampung, di Kompleks Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Cot Gapu, Kota Juang, Kabupaten Bireuen minta dipindahkan, Senin (1/10).

Para pengungsi Rohingya yang ditampung di SKB Bireuen itu terdiri 44 laki-laki dan 27 perempuan, 8 orang anak-anak, 2 diantaranya perempuan dan masih kecil.

Belakangan mereka terpaksa harus tidur di pelataran parkir kompleks tersebut, pasca SKB di manfaatkan untuk kantor Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Bireuen.

“Karena kondisinya seperti ini, maka kami ingin pindah dari SKB Bireuen ke Langsa, seperti yang dijanjikan beberapa bulan lalu,” ujar seorang pengungsi Rohingya, Muhammad Rafiq yang pasif bahasa melayu kepada Penanegeri.com, Senin (1/10).

Menurut Muhammad Rafiq itu, kami pengungsi telah siap dipindahkan ke Langsa atau ke daerah lain, sebab kami sudah tidak nyaman lagi tidur di ruang terbuka seperti ini.

“Kami punya anak-anak, bila malamnya kami juga harus tidur di ruang terbuka, apa lagi saat ini musim penghujan, atap areal parkir tempat kami tidur kondisinya bocor,” terangnya.

Baca Juga  Stok Penyediaan Makanan Pengungsi Rohingya di SKB Bireuen Ludes

Disinggung tentang masalah makanan, sebagian pengungsi lain mengaku hingga saat ini mereka masih mendapatkan jatah makanan tiga kali sehari dengan lauk seadanya.

“Alhamdulillah, kalau makan masih tetap teratur meski laut pauk seadanya, tapi kondisi tempat tidur memang tidak memungkinkan,” tuturnya.

Koordinator pengungsi muslim Rohingya di SKB Bireuen, Zulfikar (Adun Tagana) mengaku, sejauh ini kondisi seluruh pengungsi masih sehat dan tidak ada yang sakit.

“Tapi kalau tempat tidurnya memang sangat tidak layak, karena berada ruang terbuka, apa lagi ini sudah sebulan mereka harus tidur seperti ini, kan tidak mungkin,” jelasnya.

Bila mereka bertahan disini juga tidak mungkin, kecuali dari kalangan perempauan dan hingga sejauh ini masih menempati ruang penginapan peserta diklat, di kompleks SKB.

“Sedangkan untuk stok makanan seperti beras dan mie instan masih tersedia, kecuali  tentang belanja dapur, seperti lauk pauk sehari-hari, hingga sekarang anggarannya tidak tersedia lagi,” tandasnya.

Komentar

Berita Terbaru