oleh

Pengunjung Wisata RTH Langsa Keluhkan Tarif Wahana Permainan

-Aceh-159 views

PENANEGERI, Langsa – Sejumlah pengunjung kawasan wisata Ruang Terbuka Hijau (RTH) Taman Hutan Kota Langsa, mengeluhkan pemberlakuan tarif pada sejumlah wahana permainan yang ada dalam kawasan wisata tersebut. Pasalnya, akibat pemberlakuan tarif itu, banyak pengunjung tidak bisa menikmati wahana hiburan karena keterbatasan dana.

Salah seorang pengunjung wisata RTH Hutan Kota, Martonis (30) warga Kecamatan Nurussalam, Aceh Timur, Selasa (8/1) menyampaikan, pemberlakuan tarif pada sejumlah wahana dalam hutan kota sangat memberatkan bagi sebagian pengunjung dengan ekonomi rendah untuk menikmati sarana hiburan.

Karena, sambungnya, masuk dalam kawasan wisata saja kita sudah membayar retribusi sebesar Rp 5.000 per orang untuk segala usia. Kemudian, sampai di dalam untuk menikmati wahana hiburan seperti rumah pohon, rumah adat Aceh, flying fox dan bebek dayung kita juga harus mengeluarkan biaya lagi.

“Ironisnya biayanya pun sangat mahal karena pengutipannya perjiwa bukan per wahana seperti bebek dayung dan flying fox,” terang Martonis.

Dijelaskannya, untuk menikmati liburan keluarga di RTH Langsa saat ini, pengunjung harus mengeluarkan biaya yang lumayan tinggi. Apalagi bila membawa anggota keluarga yang banyak, karena setiap wahana liburan yang dinikmati harus membayar tarif per individu.

Dirinya mencontohkan, seperti wahana rumah pohon, pengunjung harus membayar tarif Rp 2.000 per orang untuk naik dengan limit waktu 10 menit. Begitu juga dengan rumah adat Aceh, pengunjung harus mengeluarkan biaya sebesar Rp 2.000 per orang dengan limit waktu 20 menit.

“Untuk dua wahana ini saja pengunjung sudah harus mengeluarkan biaya Rp 4.000 per orangnya, bayangkan dalam satu keluarga membawa anggotanya yang banyak, untuk menikmati dua wahana ini saja sudah mengeluarkan biaya cukup besar. Belum lagi dengan wahana lainnya seperti flying fox dan bebek dayung yang harus membayar tarif Rp 10.000 per orang,” jelas Martonis.

Menurutnya, bila biaya tarif yang mahal seperti ini terus dipertahankan, maka tidak menutup kemungkinan masyarakat luar Langsa akan enggan untuk datang.

“Hal ini akan berdampak terhadap berkurangnya jumlah pengunjung, terutama dari kalangan masyarakat ekonomi menengah ke bawah yang selama ini telah mengandalkan kawasan wisata hutan kota Langsa sebagai objek wisata favorit yang dikunjungi saat hari libur,” tutupnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *