oleh

Perjuangan Tim Kesehatan TNI Atasi Gizi Buruk di Asmat

PENANEGERI, PAPUA –  Letkol Laut (K) dr. Aminuddin Harahap, S.P. AM, Tr.Hanla Dantim Kes gelombang III Satgas Kes TNI Asmat dalam laporannya pada hari Selasa (27/2), kepada Kepala Puskes TNI Mayor Jenderal TNI dr. Ben Yura Rimba, MARS bahwa, “Salah satu tugas pokok yang kami tekankan kepada Tim Kesehatan Lapangan yang diterjunkan ke distrik – distrik di Asmat adalah memantau pertumbuhan berat badan semua pasien yang berada di pos perawatan gizi buruk baik yang dirawat di Puskesmas atau di RSUD Agats, Kabupaten Asmat, Provinsi Papua”.

Pemantauan ini penting untuk mengetahui apakah semua anak yang telah memperoleh perawatan mendapatkan nutrisi yang cukup dan pertambahan berat badan yang sesuai pada fase rehabilitasi.

Dalam tata-laksana penanganan gizi buruk, adalah perawatan dimulai dari fase stabilisasi, transisi, fase rehabilitasi, fase tindak lanjut, memerlukan waktu 6 (enam) bulan.

Namun demikian, pasien gizi buruk dapat dipulangkan bila dalam perawatan berat badan sudah naik lebih dari 5 g/kg Berat Badan/hari selama 3 (tiga) hari berturut-turut, selera makan baik, bisa senyum, sudah berada pada kondisi gizi kurang dan lain-lain.

Baca Juga  Tim Satgas Kesehatan TNI Gelombang III Berikan Pelayanan Kesehatan di Asmat, Papua

Dari laporan awal Diah yang merupakan ahli gizi dari Kemenkes dari Tim Distrik Kamur, melaporkan bahwa dari 10 anak pasca perawatan gizi buruk ternyata didapatkan bahwa 1 (10%), tetapi sebagian besar 9 anak (90%) berat badannya turun.

Menurut  Diah, kesembilan anak tersebut perlu dirawat ulang guna memastikan kecukupan nutrisinya, karena beberapa anak ada yang disertai mual dan diare.

Upaya yang dilakukan oleh Tim Keslap TNI – Kemenkes adalah melakukan edukasi karena orangtua tidak berkenan untuk dirawat lagi, meskipun di Puskesmas setempat.

Salah satu hal menarik yang ditemukan oleh Diah, dan mungkin penyebab dari kurang efektifnya tata-laksana gizi buruk di masyarakat ini, adalah : bahwa dari hasil interview (wawancara) yang didapat adalah ternyata susu/ nutrisi yang dibekali untuk anak pasca rawat inap, ternyata bukan diminum oleh anaknya, tetapi malah diminum oleh ayahnya.

Jadi memang masih butuh perhatian, upaya  juga waktu yang lebih untuk mengatasi gizi buruk ini, karena bukan hanya undernutrition, tetapi juga berkaitan erat dengan perilaku dan pendidikan masyarakat setempat.

Baca Juga  Kasimirus Bocah Penderita Gizi Buruk di Asmat, telah Sehat dan Pulih Kembali

Maka guna mencapai hasil yang optimal, dibutuhkan pendekatan yang holistik atau keseluruhan.

Perjuangan tim Kesehatan TNI guna Atasi gizi Buruk di Asmat

Sementara itu Kapendam XVII/Cenderawasih Kolonel Inf Muhammad Aidi menjelaskan bahwa berdasarkan laporan yang diterima posko Satgas TNI Asmat, hari Selasa (27/2) Tim Keslap Distrik Suator melakukan penelusuran ke Desa Bubis yang bergerak dari distrik pukul 08.00 dan tiba pukul 11.00 yang artinya butuh 3 (tiga) jam untuk mencapai desa tersebut.

Meskipun demikian Tim yang terdiri komponen TNI dan Kemenkes yang dipimpim oleh Letda Laut (K) dr. Tino ini dengan penuh dedikasi memberikan pengobatan umum, penimbangan balita, pemantauan pasien gizi buruk paska perawatan dan Pemberian Makanan Tambahan (PMT).

Dari hasil kegiatan tersebut, pelayanan pasien umum terlayani 23 pasien. Dari hasil pemantauan antropometri didapatkan satu kasus gizi buruk. Untuk kasus ini diberikan susu, PMT (Pemberian Makanan Tambahan ), dan vitamin oleh ahli gizi dari Kemenkes.

“Dengan kegiatan penelusuran ke kampung-kampung yang ada di distrik ini diharapkan cakupan layanan semakin tinggi dan pemetaan permasalahan kesehatan semakin representatif untuk tanah Asmat”, papar Kapendam Kolonel Inf. Muhammad Aidi kepada redaksi Penanegeri.com, hari Selasa (27/2) melalui siaran persnya. (*)

Baca Juga  Tim Satgas Kesehatan Gabungan TNI-POLRI Berikan Pelayanan Medis di 10 Distrik Asmat, Papua

Simak Videonya di Sini :

 

Komentar

Berita Terbaru