oleh

Pertempuran di Marawi Masih Sulit

PENANEGERI, Desk Internasional- Brigadir Jenderal Melquiades Ordiales dari Brigade Marinir 1 Filipina menceritakan kepada Kantor Berita Reuters bagaimana sulitnya pertempuran melawan gerilyawan IS (Islamic State) milisi Maute di Kota Marawi.

“Kami membutuhkan waktu satu minggu dari titik ini sampai ke jalan itu,” katanya, mengarahkan pandangannya ke sisi lain jalan dua jalur di jantung kota Marawi, yang dilapisi oleh bangunan tiga lantai, bangunan itu telah hancur oleh serangan udara dan dinding yang tersisa diliputi oleh lubang peluru.

“Benar-benar sangat, sangat sulit,” ujarnya

Peperangan telah menghancurkan sebagian besar wilayah di Kota Marawi, terutama wilayah bernama ’Sultan Omar Dianalan Boulevard’ yang tadinya indah, hal ini  menunjukkan seberapa besar ancaman Islamic State di Filipina dan berpotensi ke negara lain di kawasan Asia Tenggara.

Sudah empat bulan lamanya perang berlangsung di Marawi, meliputi pemboman udara dan pertrempuran dari rumah ke rumah, berlangsung sengit.

Pemerintah Filipina yakin bahwa mereka berada dalam tahap akhir operasi untuk mengusir pemberontak dari kota Marawi.

Dalam dua minggu terakhir, pejabat militer mengatakan bahwa mereka telah menaklukkan tiga benteng militan, termasuk sebuah masjid, dan membatasi sekitar 60 gerilyawan yang tersisa ke sekitar 10 blok kota yang hancur di distrik bisnis tersebut. Patroli telah ditingkatkan di danau untuk mencegah pasokan persenjataan dan merekrut anggota militan yang bersembunyi.

Perwira militer yang telah bertempur selama bertahun-tahun melawan gerilyawan Islam di Filipina selatan mengatakan pertempuran di Marawi telah lebih intens dan sulit daripada pertemuan sebelumnya.

“Militan Islamic State dipersenjatai lebih baik, dengan senjata bertenaga tinggi, kacamata penglihatan malam, senjata sniper terbaru dan pengintai,”  kata Kapten Arnel Carandang, dari Batalyon Ranger Prajurit Angkatan Darat Filipina kepada kantor Berita Reuters, Senin (25/9).

Dia mengatakan bahwa dia telah bertugas selama hampir satu dekade di hutan terpencil dan pegunungan Mindanao, wilayah Filipina selatan yang telah lama dirusak oleh pemberontakan. Kini, Carandang mengatakan, militer berada di daerah perkotaan.

Seperti halnya taktik ISIS di kota Mosul, Irak, mereka dikelilingi oleh sandera dan menggunakan sniper dan jaringan terowongan.

Sistem drainase bawah tanah Marawi dan “lubang tikus” – celah-celah di dinding lantai tinggi memungkinkan akses ke bangunan yang berdekatan – memungkinkan pemberontak menghindar dari bom dan tetap tidak terdeteksi, kata tentara di medan perang tersebut.

“Kami yakin ada beberapa teroris asing yang telah mengarahkan operasi mereka karena itulah mereka, bagaimana saya mendefinisikan ini, sangat bagus,” kata Kapten Carandang.

“Kami telah melihat beberapa mayat orang asing. Ada yang berkulit putih, ada yang hitam dan beberapa orang tinggi yang kita tebak adalah orang Asia (dari luar Filipina). Kami telah mendengar transmisi beberapa teroris berbahasa Inggris, ” paparnya.

Krisis di Marawi City telah menewaskan lebih dari 800 orang, di antaranya hampir 700 militan dan lebih dari 150 pasukan pemerintah. Pertempuran di Marawi ini juga telah menyebabkan lebih dari 200.000 penduduk Marawi dan ribuan lainnya mengungsi menuju ke kota-kota terdekat. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *