oleh

PM Bangladesh Inginkan Pengungsi Rohingya Pulang dengan Aman ke Myanmar

PENANEGERI, Desk Internasional – Dalam pidatonya di PBB, Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina meminta Myanmar untuk mengizinkan kembalinya pengungsi Rohingya pulang balik ke Myanmar.

Perdana Menteri Bangladesh mendesak agar Myanmar mengizinkan pulang dan kembalinya pengungsi Rohingya yang “lapar, tertekan dan tanpa harapan” tertsebut .

“Orang-orang ini harus bisa pulang dan kembali ke tanah air mereka dengan aman, aman dan bermartabat,” kata Sheikh Hasina di PBB.

Myanmar harus menghentikan “pembersihan etnis” di negara bagian Rakhine, dan “zona aman” harus diciptakan di dalam negara tersebut untuk melindungi semua warga sipil, di bawah pengawasan Perserikatan Bangsa-Bangsa, demikian dikakatakan oleh Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina kepada Majelis Umum PBB, hari Kamis (21/9).

“Saya datang ke sini, karena setelah melihat Rohingya yang lapar, tertekan dan putus asa dari Myanmar yang berlindung di Cox’s Bazar di Bangladesh,” kata Hasina di PBB.

“Orang-orang Myanmar yang terpaksa mengungsi ini melarikan diri dari ‘pembersihan etnis’ di negara mereka sendiri dimana mereka telah tinggal berabad-abad,” tambah PM  Bangladesh, Sheikh Hasina di  majelis umum PBB.

PM Sheikh Hasina mencatat bahwa negaranya saat ini melindungi lebih dari 800.000 orang Rohingya yang mengungsi dari Myanmar, dan bahwa kekejaman dan pelanggaran hak asasi manusia yang sedang berlangsung di negara bagian Rakhine di Myanmar sekali lagi memperparah situasi di perbatasan Bangladesh-Myanmar.

Dia mengusulkan agar Myanmar menghentikan praktik “pembersihan etnis” di Rakhine segera dan selamanya dan Sekretaris Jenderal PBB segera mengirim misi pencarian fakta ke Myanmar.

Dia juga mengusulkan agar “zona aman” dibuat di dalam Myanmar untuk melindungi semua warga sipil terlepas dari agama dan etnis di bawah pengawasan PBB dan semua orang Rohingya yang terpaksa mengungsi ke Bangladesh agar dapat kembali ke rumah mereka di Myanmar secara berkelanjutan.

Sedangkan menurut International Organization for Migration (IOM), terdapat lebih dari separuh pengungsi Rohingya, kelompok etnis mayoritas Muslim, terpaksa tinggal di kamp pengungsian  darurat dengan sedikit akses ke tempat tinggal, makanan, air bersih dan sanitasi yang layak .

Pada hari Selasa (19/9), Marzuki Darusman, kepala Misi Pencarian Fakta PBB, mengatakan bahwa mereka berusaha mendapat akses ke Myanmar untuk menyelidiki adanya tuduhan pembunuhan massal dan penyiksaan.

Anak-anak Rohinya adalah mencakup 60 persen lebih dari sekitar 420.000 orang Rohingya yang telah masuk ke Bangladesh. Mereka telah melihat anggota keluarga terbunuh dan rumah dibakar, dan telah menempuh perjalanan berbahaya melalui hutan dan perahu yang rapuh.

Badan PBB, UNICEF sejauh ini telah menghitung lebih dari 1.400 orang anak  Rohingya yang telah melintasi perbatasan dengan orang tuanya.

Pengungsi anak menghadapi banyak bahaya, termasuk perpisahan dari keluarga, perdagangan manusia, perbudakan, dan pelecehan.

Kelaparan adalah hal yang konstan yang dialami mereka, dan kebanyakan anak harus mengemis pada suatu saat jika mereka ingin makan. Dan untuk melakukan itu mereka harus meninggalkan tenda mereka.

Orang tua mereka, yang terlalu kewalahan dan miskin, tidak bisa mendampingi anak-anak Rohingya dalam pengungsian ini.

UNICEF telah berusaha menciptakan “Ruang Ramah Anak” di dalam kamp pengungsian. Ruang Ramah Anak adalah ruang di mana anak-anak dapat berada di sekitar satu sama lain, di mana mereka bisa bermain dan bernyanyi dan membaca buku.

Tapi anak-anak terlalu ketakutan akan teror yang mereka saksikan, untuk itu lembaga bantuan seperti UNICEF dan Doctors Without Borders mengatakan bahwa mereka berusaha memahami kondisi mental dan fisik anak-anak pengungsi Rohingya tersebut.

Badan bantuan Save the Children memperingatkan bahwa lebih dari 600.000 anak-anak Rohingya dapat berada di Bangladesh pada akhir tahun ini, dan banyak dari mereka mungkin adalah yatim piatu yang membutuhkan bantuan segera. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar