oleh

Polisi Dalami Data Sindikat Ujaran Kebencian Saracen

PENANEGERI, Jakarta –  Pihak Kepolisian masih medalami data elektronik yang ada pada kelompok sindikat penyebar konten  Hoax  dan penyebar konten hate sepeech atau ujaran kebencian yang terorganisir, yakni Kelompok Saracen.

Data yang sedang diselidiki Polisi adalah data harddisk dan flashdisk milik tersangka pengelola grup Saracen yang berisi konten ujaran kebencian di jejaring sosial Facebook, Saracen.

Data  elektronik ini sebesar puluhan gigabyte dalam hard disk dan flash disk para tersangka.

“Puluhan gigabyte diekstraksi penyidik. Masih ada pendalaman info-info dalam data yang sudah disita penyidik,” kata Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabagpenum) Polri, Kombes Pol Martinus Sitompul, di Mabes Polri, Jakarta, Senin (28/8).

Tim Penyidik Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri juga terus mengembangkan penyidikan kasus penyebaran ujaran kebencian, SARA, dan penyebaran hoax oleh sindikat Saracen.

Penyidik Badan Reserse Kriminal Polri berkoordinasi dengan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) untuk menelusuri aliran dana yang masuk ke sejumlah rekening pengelola grup Saracen, yang menyebar konten ujaran kebencian di jejaring sosial Facebook.

“Kami koordinasi dengan PPATK terkait upaya penelusuran aliran dana,” kata Kepala Bagian Penerangan Umum Polri Kombes Pol Martinus Sitompul di Mabes Polri, Jakarta, Senin (28/8).

Polisi juga  terus menelusuri transaksi keuangan yang pernah dilakukan kelompok Saracen serta pihak-pihak yang diduga menggunakan jasa tersangka.

“Ada beberapa rekening yang masih dianalisis agar bisa diketahui aliran dananya, berapa jumlah dananya, apa ada pemesanan berita menyesatkan,” kata Kombes Martinus.

Selain itu kepolisian berkoordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk mengawasi akun-akun yang memuat konten ujaran kebencian.

Dalam kasus Saracen ini Polisi telah menangkap tiga tersangka pengelola Saracen berinisial MFT, SRN dan JAS.

Ketiga pelaku ini dijerat dengan dugaan tindak pidana penyebaran ujaran kebencian atau hate speech dan SARA. Mereka dikenakan Pasal 45 juncto Pasal 28 UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang ITE, dengan ancaman hukuman 6 tahun penjara. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *