oleh

Polisi Tangkap 5 Terduga Teroris di Bima

PENANEGERI, Jakarta – Densus 88 Antiteror Polri bersama Polda NTB menangkap 5 terduga teroris di wilayah Ambalawi, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB). Penangkapan ini hasil pengembangan aparat yang menelusuri pergerakan kelompok teroris di Gunung Mawu.

“Identitas (terduga teroris) yakni, Muhammad Iqbal Tanjung (28) Abdul Hamid alias Dami (60), Jasman Ahmad (28), Yaser Bin Thamrin (31), dan Arkam (30),” kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Rikwanto dalam keterangannya, Rabu (1/11) di Jakarta.

Para terduga teroris itu ditangkap dalam operasi Densus pada 30-31 Oktober 2017. Kelompok ini diduga mendalangi aksi penembakan dua polisi di Bima, yaitu Bripka Zaenal dan Bripka Gofur, pada 11 September 2017 lalu.

Karo Penmas Divhumas Polri, Brigjen Rikwanto, menyebutkan para terduga teroris ini terlibat dalam jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Bima yang menyerang polisi dengan senjata api pada September 2017.

Menurut Brigjen Rikwanto, tidak semua terduga teroris itu terlibat langsung dalam penembakan polisi di Bima. Ada dari yang ditangkap karena membantu pelarian para eksekutor dan ikut pelatihan JAD (Jamaah Anshorut Daulah).

Brigjen Rikwanto menyebutkan, seorang terduga teroris bernama Ikbal, mengaku kelompok ini sudah melakukan perencanaan sebelum menyerang Bripka Zaenal di depan SMKN 2 Bima. Ada pembagian tugas mulai untuk eksekutor hingga penyedia logistik selama pelarian di kawasan pegunungan.

“Ikbal menjelaskan bahwa selama bersembunyi mendapat bantuan logistik dari saudara Jasman dan Yoga berupa mie instan dan biskuit, kemudian disalurkan melalui orang tuanya yang bernama Dami alias Demo untuk mengantarkan logistik tersebut ke tempat persembunyian,” sebut Rikwanto dalam keterangannya, Rabu (1/11).

Selain lima orang yang tertangkap hidup-hidup, Densus juga menembak mati dua terduga teroris. Mereka adalah Amir dan Yaman. Bersama Ikbal, dua orang ini terlibat langsung dalam penyerangan Bripka Zaenal.

Brigjen Rikwanto menjelaskan, Iqbal adalah eksekutor dalam penembakan terhadap Bripka Zaenal. Lalu Dami berperan dalam pemberian bantuan logistik kepada para pelaku penyerang dua polisi selama masa pelarian. Keduanya merupakan anak dan ayah.

“Iqbal menjelaskan bahwa selama bersembunyi mendapat bantuan logistik dari saudara Jasman dan Yoga berupa mie instan dan biskuit. Kemudian disalurkan melalui orang tuanya yang bernama Dami alias Demo untuk mengantarkan logistik tersebut ke tempat persembunyian,” terang Rikwanto.

Kemudian Jasman yang merupakan anggota Jamaah Anshorut Daulah (JAD) Bima itu berperan sebagai koordinator penyedia logistik untuk diberikan kepada para pelaku yang bersembunyi dari kejaran polisi. Sementara Yaser bin Thamrin dan Arkam diketahui mengikuti kegiatan pelatihan fisik yang dilakukan para anggota kelompok JAD Bima.

Kepada polisi, Iqbal mengaku dibonceng Yaman untuk mengamati Bripka Zaenal di depan SMKN 2 Kota Bima. Setelah itu mereka menembak korban. Sementara untuk TKP di depan SMPN 8 Kota Bima, yang menjadi eksekutor adalah Amir alias Dance alias One dan yang membonceng adalah Imam Munandar alias Nandar dengan menggunakan motor.

Usai beraksi, mereka berempat lalu bersembunyi di Gunung Mawu, Ambalawi. “Iqbal menjelaskan bahwa Imam Munandar alias Nandar masih memegang satu pucuk senjata api rakitan dengan amunisi 3 butir kaliber 5,56 mm,” papar Brigjen Rikwanto kepada wartawan. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *