oleh

Polres Aceh Besar Amankan 10 Tersangka dengan 118,2 Gram Sabu, Salah Satunya dari Rutan Jantho

PENANEGERI, Aceh Besar – Selama 22 hari sejak tanggal 1 Januari hingga hari ini, Sat Resnarkoba Polres Aceh Besar mengungkap lima kasus narkoba jenis sabu. Dari kelima kasus yang ditangani ini, sebanyak 10 tersangka diamankan bersama barang bukti sabu dengan total berat 118,2 gram.

Hal ini diungkap Kapolres Aceh Besar, AKBP Ayi Satria Yuddha didampingi Kasat Resnarkoba, AKP Raja Aminuddin Harahap, Kasat Lantas, AKP Vifa Febriana Sari dan Kepala Rutan Klas II B Jantho saat konferensi pers di Mapolres Aceh Besar, Selasa (22/1).

Kapolres mengatakan, seluruh pelaku ditangkap di sejumlah lokasi berbeda atas informasi yang diperoleh dari masyarakat. Sebanyak 5 tersangka ditangkap di kawasan Piyeung, Kecamatan Montasik yang berinisial R, S, I, M dan IM selaku pengguna sabu.

“Kedua penangkapan di Gampong Baro, Kecamatan Montasik sebanyak dua kali yang kita amankan ada 3 tersangka berinisial MU, DE serta B yang merupakan bandar.  Selanjutnya penangkapan dilakukan di Gampong Lam Arah, Kecamatan Kuta Malaka seorang bandar berinisial M, lalu di Rutan Kota Jantho, salah satu napi selaku pengguna sabu yang berinisial F,” paparnya.

Ia menjelaskan, para bandar dan pengguna sabu ini dijerat dengan Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika sesuai peran masing-masing. Mereka terancam dengan hukuman kurungan penjara maksimal selama 20 tahun.

“Para bandar mengaku kalau mereka sudah menjual barang haram ini belum lama dan belum banyak yang terjual. Sabu diperoleh dari luar Aceh Besar dan hingga kini masih dilakukan pengembangan lebih lanjut untuk mencari bandar besarnya,” ungkap Kapolres.

Aceh Besar
(Penanegeri/Istimewa) : Kapolres Aceh Besar, AKBP Ayi Satria Yuddha didampingi Kasat Resnarkoba, AKP Raja Aminuddin Harahap, Kasat Lantas, AKP Vifa Febriana Sari dan Kepala Rutan Klas II B Jantho menunjukkan barang bukti narkoba jenis sabu-sabu saat konferensi pers di Mapolres Aceh Besar, Selasa (22/1).

Dirinya berharap, barang yang dapat membunuh nyawa manusia dan sangat merugikan masyarakat ini dapat terus diberantas.

“Polres Aceh Besar pun tak henti-hentinya mengimbau masyarakat agar bersama-sama untuk dapat memerangi narkoba demi menyelamatkan generasi muda di masa yang akan datang,” tegasnya.

Sementara itu, Kasat Resnarkoba, AKP Raja Aminuddin Harahap mengatakan, para tersangka kooperatif saat ditangkap. Penangkapan seluruh tersangka ini berjalan lancar tanpa ada perlawanan.

“Rata-rata ditangkap di rumahnya, cuma satu saja yang ditangkap di kandang sapi di kebunnya yang mana memang diketahui kawasan kebun memang kerap digunakan sebagai tempat untuk menggunakan sabu,” jelasnya.

Terkait penangkapan napi yang dilakukan di Rutan Jantho, hal itu berawal dari tindakan yang dilakukan oleh Kepala Rutan Jantho yang menerima informasi bahwa petugasnya menemukan satu paket kecil sabu seberat 0,8 gram.

“Dia pengguna, sangat disayangkan padahal dia akan bebas sebentar lagi setelah menjalani hukuman selama ini atas kasus yang sama. Namun terpaksa sangkut lagi atas perbuatannya,” tutur mantan Kasat Resnarkoba Polres Pidie ini.

Tersangka F, sambungnya, baru seminggu diamankan di Mapolres Aceh Besar untuk diproses lebih lanjut.

“Semua kasus ini masih kita dalami, termasuk si penyelundup sabu ke Rutan Jantho masih kita kejar,” tambahnya.

Dikesempatan yang sama, Kepala Rutan Klas II B Jantho, Yusnaidi mengatakan, paket sabu itu ditemukan oleh petugas piket di Rutan yang kemudian diteruskan ke Komandan Jaga, Kepala Keamanan hingga dirinya. Pihaknya pun langsung melakukan pemeriksaan.

“Ini sekitar tiga malam lalu, kemudian setelah kita periksa kita serahkan ke Sat Resnarkoba Polres Aceh Besar untuk ditindaklanjuti. Segala sesuatunya saat ini kita serahkan ke Polres Aceh Besar,” ujarnya.

Pihaknya mengaku, selama ini prosedur pemeriksaan barang bawaan terhadap orang yang membezuk selalu dilakukan. Namun mungkin yang kemarin, berhasil lolos dari razia petugas sipir.

“Kita akan perbaiki kesalahan ini untuk kedepannya. Untuk penghuni Rutan memang over, bahkan hampir seluruh lapas di Aceh over kapasitas,” tandas Yusnaidi.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *