oleh

Presiden Trump : ‘Pernyataan ke Korut saja, Tidak Cukup Kuat’

PENANEGERI, Desk Internasional- Presiden Donald Trump menyatakan bahwa mungkin jika hanya pernyataan tentang : ‘api dan kemarahan’ atau ‘fire and fury’ pada Korut saja tidaklah cukup kuat.

“Mungkin pernyataan itu tidak cukup kuat,” ujar Trump, dalam pernyataannya yang terbaru pada Korut, Kamis (10/8).

Sepekan terakhir ini pertukaran kata-kata ancaman makin meningkat di antara negara-negara bersenjata nuklir, dalam hal ini AS dan Korut.

Sehari setelah Korea Utara menetapkan rencana untuk menyerang dekat Guam, meski ini hanyalah rencana dengan spesifisikasi yang tidak pasti, karena tidak ada tanda-tanda demonstrasi yang dapat diprediksi akan memicu perang.

Namun meskipun ada saling berbalas retorika yang bernada kemarahan dari kedua belah pihak. Pejabat AS mengatakan tidak ada pergerakan besar aset militer AS ke wilayah tersebut (Guam), juga tidak ada tanda-tanda bahwa Pyongyang secara aktif mempersiapkan perang.

Hanya saja saling ancam antara Trump dan Kim Jong un meningkatkan ancaman dari Korea Utara karena ketegangan meningkat.

Meskipun Korea Utara berencana untuk menembakkan rudal di dekat Guam dalam sebuah kata-kata retorika yang bernada marah, namun tidak ada demonstrasi yang dapat diamati akan menuju konflik.

Komentar Trump bahwa kata-kata ‘fire and fury’ itu belumlah kuat, dikeluarkan sehari setelah Korea Utara merencanakan untuk menyerang dekat Guam.

Menekankan perang kata-katanya, Presiden AS Donald Trump memperingatkan pemerintah Kim Jong-un pada hari Kamis (10/8) untuk “bertindak bersama” atau menghadapi “masalah” yang luar biasa, dan juga Presiden Trump telah mengeluarkan ancaman, bahwa kata-kata melepaskan “api dan kemarahan” terhadap Korea Utara, terlalu ringan.

Presiden Trump menolak untuk mengatakan apakah AS mempertimbangkan serangan militer pre-emptive saat dia berbicara dengan wartawan sebelum melakukan briefing dengan penasihat keamanan nasionalnya di sebuah resor golf.

Presiden bersikeras Korea Utara telah “lolos dengan sebuah tragedi yang tidak dapat dibiarkan”.

“Korea Utara lebih baik bertindak bersama, atau mereka akan berada dalam masalah seperti beberapa negara yang pernah bermasalah,” kata Presiden Trump,  bersama  Wakil Presiden Mike Pence.

Seraya menuduh pendahulunya melakukan tindakan yang tidak mencukupi, Presiden Trump mengatakan sudah waktunya seseorang bersikap tegas pada Korut.

Ketegangan memang telah meningkat selama berbulan-bulan di tengah uji coba rudal baru oleh Korea Utara.

Ditambah lagi sejak Dewan Keamanan PBB pada hari Sabtu mensetujui sanksi baru yang diminta Trump terhadap Korut.
Sanksi tersebut mendorong meningkatnya saling lempar retorika baru yang makin memanaskan suasana.

Ketegangan untuk Guam

Dalam langkah terakhir oleh Korea Utara, militernya mengumumkan sebuah rencana rinci untuk menembakkan empat rudal Hwasong-12 ke Jepang dan memasuki perairan di sekitar wilayah kecil Guam di AS, yang menampung dua pangkalan AS dan 160.000 orang.

Ini hanyalah rencana yang baru akan dikembangkan pertengahan Agustus.

Korea Utara mengatakan militernya akan menyelesaikan rencana tersebut pada pertengahan Agustus, kemudian menunggu perintah Kim Jong un.

Sekutu AS, yakni Jepang dan Korea Selatan dengan cepat bersumpah akan bereaksi keras jika Korea Utara terus menindaklanjutinya.

Presiden Trump menyatakan ancaman tersebut pada hari Kamis, jika Korea Utara bersikeras mengambil langkah untuk menyerang Guam, maka para pemimpin Korut akan memiliki alasan untuk merasa gugup.

“Hal-hal akan terjadi pada mereka seperti yang tidak pernah mereka duga, oke?” demikian ujar Presiden Trump. Hanya saja Presiden rump  tidak menentukan apa yang dimaksudkannnya.

Kepulauan Guam terletak sekitar 3.400 kilometer dari Semenanjung Korea, dan sangat tidak mungkin pemerintah Kim akan mengambil risiko pemusnahan dengan serangan pre-emptive terhadap warga AS.

Juga tidak jelas bagaimana rudal Korea Utara dapat diandalkan terhadap sasaran yang jauh, mengingat bahwa militernya telah berjuang untuk menargetkan secara efektif di masa lalu.

Trump mengatakan bahwa dia akan segera mengumumkan permintaan kenaikan anggaran “miliaran dolar” untuk sistem anti-rudal.

AS juga memiliki kehadiran kekuatan militer yang sangat kuat di wilayah Guam.

Perintah apapun oleh Presiden AS bisa dijalankan dengan cepat.

Pejabat AS dan sekutunya mengatakan jika perang memang terjadi, AS dan sekutu-sekutunya kemungkinan akan memukul dengan keras dan cepat, menggunakan serangan udara, operasi pesawat tak berawak dan serangan cyber yang ditujukan pada pangkalan militer, pangkalan udara, lokasi rudal, markas artileri, komunikasi, komando dan kontrol dan kemampuan pengumpulan dan pengawasan intelijen.

Ancaman utama adalah angkatan laut kecil tapi masif di Korea Utara, termasuk kapal selam yang bisa bergerak pelan dan menyerang.  Pyongyang kabarnya juga memiliki kemampuan cyber yang signifikan, meski tidak sehebat Amerika.

Korea Utara juga telah mempersiapkan perang darat selama beberapa dekade, dan akan menjadi kekuatan yang tangguh di perbatasan.

“Apakah saya memiliki pilihan militer? Tentu saja saya punya. Itu tanggung jawab saya,” kata Menteri Pertahanan Jim Mattis pada hari Rabu. Namun dia mengatakan bahwa administrasi Trump ingin “menggunakan diplomasi”.

Menteri Luar negeri (Secretary of State) AS, Rex Tillerson, di Asia minggu ini, mengatakan bahwa Korea Utara dapat memberi sinyal bahwa pihaknya siap untuk melakukan perundingan, dengan menghentikan uji coba rudal miliknya. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *