oleh

Ramon Forcada : Stoner Bisa Dapatkan Gelar Lebih Banyak

PENANEGERI, Moto GP – Salah satu insinyur Moto GP yang paling dihormati, Ramon Forcada, mengatakan kepada Motorsport.com, Minggu (23/7) tentang waktu singkatnya bekerja dengan Casey Stoner 11 tahun yang lalu dan menyebut pembalap Australia itu adalah yang paling berbakat yang pernah bekerja dengannya.

Stoner tiba di kelas utama di tim Lucio Cecchinello pada tahun 2006, setelah menandatangani kontrak dengan Sito Pons, yang timnya bangkrut saat kehilangan sponsor utama Camel ke Yamaha.

Pembalap muda Australia itu tampaknya dibayang-bayangi oleh Dani Pedrosa, yang bergabung dengan tim pabrikan Honda bersama Nicky Hayden dengan raihan gelar 250cc beruntun, tapi hanya butuh waktu hingga balapan kedua tahun tersebut di Qatar baginya untuk menunjukkan semua potensi.

Dia telah melewatkan tiga balapan namun berhasil sampai ke sirkuit untuk sesi latihan pertama dan begitu dia berada di sana, dia mencatatkan waktu terbaik dan mengulangi prestasi tersebut pada pekan berikutnya, mencetak pole position pertamanya.

Putaran berikutnya di Turki, dia meraih podium pertamanya dengan finish di tempat kedua di belakang Marco Melandri. Tapi segalanya terlihat memburuk karena saat itu, Stoner sering mengalami kecelakaan di lintasan balap.

“Total terjadi total 23 kecelakaan sepanjang tahun itu dan semuanya karena masalah ban depan. Casey perlu benar-benar merasakan bagian depan motornya, dan dia tidak peduli dengan bagian belakangnya,” jelas Forcada terkait insiden yang menimpa Stoner.

Stoner menyelesaikan tahun itu dengan menempati posisi kedelapan klasemen sementara, tertinggal 133 poin dari Nicky Hayden yang akhirnya dinobatkan sebagai juara, setelah gagal finish sebanyak tujuh kali.

Ban Michelin yang dia gunakan tidak sesuai dengan gaya berkendaranya, terutama untuk bagian depan.

Fakta ini menjadi jelas pada tahun berikutnya setelah pembalap Australia itu menandatangani kontrak dengan tim Ducati, yang menggunakan ban Bridgestone dan menjadi juara dunia dengan mencetak 10 kemenangan dari 18 balapan.

“Saya tahu sangat jelas apa yang menjadi masalah Stoner di lintasan, dia harus mengubah komposisi motor tapi terhalang sistem. Dia adalah pembalap berbakat dan itu dibuktikan dengan tim Ducati. Sayangnya dia harus pensiun muda dan itu adalah pilihannya, saya rasa apapun keputusannya adalah yang terbaik untuknya dan keluarganya,” tandas Ramon Forcada.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *