oleh

Ribuan Pengungsi baru Rohingya lari dari Myanmar menuju Bangladesh

PENANEGERI, Desk Internasional- Ribuan pengungsi baru Rohingya telah melarikan diri dari kekerasan dan kelaparan di Myanmar untuk menuju ke Bangladesh. Ribuan pengungsi Rohingya baru ini melintasi perbatasan Myanmar ke Bangladesh, hari Senin pagi (16/10).

Para pengungsi mengatakan kepada kantor berita Reuters, bahwa mereka melarikan diri dari kelaparan dan serangan kekerasan di Myanmar.

Para pengungsi yang tiba di Bangladesh pada hari Senin (16/10) mengatakan bahwa mereka terpaksa mengungsi dari Myanmar, karena kelaparan, karena pasar makanan di negara bagian Rakhine barat Myanmar telah ditutup, dan pengiriman bantuan dibatasi.

Mereka juga melaporkan kekerasan militer dan massa di Rakhine.

Mengarungi air sungai yang kotor dengan anak-anak yang terikat di sisi tubuh mereka, kaum pengungsi Rohingya mengatakan kepada kantor Berita Reuters bagaimana mereka berjalan melalui semak-semak dan melewati sungai-sungai selama berhari-hari dari wilayah Buthidaung Myanmar sebelum sampai di perbatasan Bangladesh.

Para pengungsi Rohingya ini memasuki Bangladesh di dekat desa Palongkhali, dalam kondisi lapar dan miskin.

Banyak diantara mereka yang terluka, dengan para orang tua, anank-anak dan para wanita membawa barang keluarga, bekal makanan, serta buntalan pakaian di atas kepala mereka.

“Kami tidak bisa keluar rumah pada bulan lalu karena militer menjarah orang. Mereka mulai menembaki desa. Jadi kita lolos ke desa lain, “kata Mohammad Shoaib, 29 salah seorang pengungsi yang baru datang hari Senin (16/10) kepada Kantor Berita Reuters.

Dia mengenakan rompi kuning dan menyeimbangkan tas raminya, membawa beberapa bekal makanan yang diikat pada bilah bambu.

“Hari demi hari keadaan semakin memburuk, jadi kami mulai bergerak menuju Bangladesh. Sebelum kami pergi, saya kembali ke kampung untuk melihat rumah saya, dan seluruh desa dibakar, ” kata Shoaib.

Mereka berjalan untuk bergabung dengan sekitar 536.000 Muslim Muslim Rohingya yang telah meninggalkan Myanmar sejak 25 Agustus, ketika serangan gerilyawan Rohingya yang terkoordinasi memicu sebuah respon militer yang ganas, mengakibatkan orang-orang melarikan diri setelah adanya pembakaran, pembunuhan dan pemerkosaan.

Myanmar telah menolak tuduhan pembersihan etnis dan justru menyalahkan pada kelompok gerilyawan Rohingya.

Ratusan ribu orang Rohingya sudah berada di Bangladesh setelah melarikan diri dari kekerasan sebelumnya di Myanmar, di mana mereka telah lama ditolak kewarganegaraannya dan dibatasi di Myanmar

Pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi, telah berjanji untuk bertanggung jawab atas pelanggaran hak asasi manusia dan mengatakan bahwa negara tersebut akan menerima kembali pengungsi yang dapat membuktikan bahwa mereka adalah penduduk Myanmar.

Amerika Serikat dan Uni Eropa telah mempertimbangkan sanksi yang ditargetkan terhadap para pemimpin militer Myanmar, para diplomat dan pejabat mengatakan kepada Reuters, meskipun mereka waspada terhadap tindakan yang dapat mengacaukan transisi demokrasi negara tersebut.

Menteri luar negeri Uni Eropa akan membahas Myanmar pada hari Senin, dan pernyataan gabungan mereka mengatakan “akan menangguhkan undangan ke panglima tertinggi angkatan bersenjata Myanmar / Burma dan perwira militer senior lainnya”.

Kepala pasukan yang berkuasa, Min Aung Hlaing, mengatakan kepada duta besar Amerika Serikat di Myanmar minggu lalu bahwa eksodus Rohingya, yang menurutnya bukanlah asli Myanmar melainkan adalah “orang Bengali” itu,  dibesar-besarkan. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *