oleh

Ribuan Pengungsi Rohingya lari ke Bangladesh

PENANEGERI, Desk Internasional- Ribuan orang Rohingya melarikan diri dari Myanmar ke Bangladesh, setelah terjadi pengerahan pasukan Myanmar di wilayah Rakhine.

Pengungsi Rohingya tiba di kamp-kamp yang penuh sesak, akibat ketakutan akan adanya kekerasan, setelah penempatan pasukan Myanmar di wilayah Rakhine, Myanmar.

Terdapat hampir 400.000 orang pengungsi Rohingya yang tinggal di kamp-kamp kumuh di Cox’s Bazar Bangladesh, setelah melarikan diri penuh ketakutan dari Myanmar.

Ribuan Muslim Rohingya telah menyeberang ke Bangladesh sejak Myanmar mengumumkan adanya penempatan pasukan militer Myanmar di negara bagian Rakhine, yang dilanda kekerasan awal bulan ini.

Pemimpin Rohingya di Bangladesh mengatakan kepada kantor berita AFP pada hari Rabu (23/8) bahwa setidaknya ada 3.500 orang pengungsi Muslim Rohingya telah tiba dalam beberapa pekan terakhir, dan memadati area kamp pengungsi yang sudah penuh sesak di area Cox’s Bazaar, dekat sungai Naf, Bangladesh, perbatasan kedua negara, Myanmar-Bangladesh.

“Di kamp Balukhali saja, sekitar 3.000 orang Rohingya tiba dari desa mereka di Rakhine,” kata Abdul Khaleq, merujuk pada kamp yang terdekat dengan sungai, tempat sebagian besar pengungsi tinggal saat mereka tiba.

Kamal Hossain, seorang tetua Rohingya di kamp lain, mengatakan bahwa hampir 700 keluarga Rohingya yang mengungsi dari Myanmar telah tiba di Bangladesh dalam 11 hari terakhir.

Banyak yang tidur di tempat terbuka karena tidak ada tempat lagi di kamp, katanya.

Pada 12 Agustus, pihak berwenang di Myanmar mengirim ratusan tentara ke Rakhine untuk meningkatkan keamanan, yang memicu kritikan dari utusan khusus PBB, Yanghee Lee, yang memperingatkan bahwa penempatan pasukan Myanmar di Rakhine tersebut “menjadi perhatian utama”.

Kawasan Rakhine, di Myanmar utara, dicengkeram kekerasan sejak Oktober tahun lalu, saat orang-orang bersenjata menyerang pos polisi.

Setelah insiden tersebut, pihak berwenang Myanmar dilaporkan telah menindak komunitas Rohingya. Hal ini diyakini Perserikatan Bangsa-Bangsa dapat menyebabkan pembersihan etnis dari kelompok minoritas Muslim Rohingya.

Deen Mohammad, seorang pria Rohingya lainnya yang memasuki Bangladesh pada tanggal 13 Agustus mengatakan bahwa penduduk desa Muslim di Rakhine tidak diizinkan untuk mengunjungi tetangga tanpa mendapat izin dari tentara Myanmar sebelumnya.

Petani berusia 45 tahun tersebut mengatakan bahwa dia meninggalkan rumah bersama keluarganya setelah tentara membunuh anak laki-lakinya yang berusia 23 tahun karena telah melakukan perjalanan ke desa terdekat.

Laporan kekejaman

Rincian dugaan penyalahgunaan lainnya tahun lalu telah dicatat oleh PBB, yang telah mendokumentasikan pemerkosaan massal, pembunuhan, termasuk bayi dan anak-anak, penganiayaan dan penghilangan orang.

Perwakilan Rohingya mengatakan sekitar 400 orang tewas dalam operasi keamanan pada bulan Oktober.

Myanmar meluncurkan penyelidikannya sendiri mengenai kemungkinan kejahatan di Rakhine dan menunjuk mantan Sekjen PBB Kofi Annan untuk memimpin sebuah komisi.

Pada hari Rabu, Annan mempresentasikan laporannya kepada Presiden Htin Kyaw di ibukota Myanmar, Naypyidaw. Laporan tersebut diharapkan dapat dipublikasikan untuk umum pada hari Kamis.

‘Sangat prihatin’

Myanmar yang mayoritas beragama Buddha telah lama mendapat kritik karena perlakuannya terhadap lebih dari satu juta orang Rohingya yang tinggal di Rakhine, yang dipandang sebagai orang asing dari Bangladesh, dan ditolak kewarganegaraannya, dan akses terhadap hak-hak dasar di Myanmar.

Sementara Bangladesh memperkirakan bahwa hampir 400.000 pengungsi Rohingya tinggal di kamp-kamp pengungsi yang kumuh dan permukiman darurat di Cox’s Bazar.

Para pengungsi Rohingya mencakup lebih dari 70.000 orang yang tiba di bulan-bulan setelah krisis di bulan Oktober tahun lalu, banyak yang bersaksi tentang pemerkosaan, pembunuhan dan pembakaran sistematis di tangan tentara Myanmar.

Namun di sisi lain, orang Rohingya juga semakin tidak disukai di Bangladesh yang berpenduduk mayoritas Muslim, di mana polisi sering menyalahkan mereka atas kejahatan seperti perdagangan narkoba.

Pemerintah Bangladesh juga telah melayangkan gagasan untuk merelokasi puluhan ribu pengungsi Rohingya ke sebuah pulau terpencil yang rawan banjir di lepas pantai, meskipun mendapat tentangan dari kelompok hak asasi manusia.

Pada hari Rabu, badan pengungsi PBB mengatakan bahwa pihaknya “sangat prihatin” dengan laporan adanya kapal yang mengangkut pengungsi Rohingya yang diusir kembali ke wilayah Myanmar oleh patroli dan penjaga pantai Bangladesh.

“UNHCR sangat prihatin dengan insiden ini, yang oleh penjaga pantai melaporkan, dimana ada wanita dan anak-anak yang mengatakan bahwa mereka melarikan diri dari kekerasan,” kata seorang juru bicara agensi UNHCR kepada AFP. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *