oleh

Rusia : AS dan Korut Harus Tenangkan Diri

PENANEGERI, Desk Internasional- Rusia mengatakan kepada AS, dan Korea Utara yang ber-’kepala panas’, untuk menenangkan diri, demikian siaran pers Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov di PBB, Jumat (22/9) dalam menggambarkan adanya saling  berbalas retorika kata-kata antara Washington dan Pyongyang sebagai ‘perkelahian anak TK’.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menyarankan kepada AS dan Korut yang digambarkan sebagai “kepala panas” untuk lebih tenang.

Perang kata-kata memang makin memanas antara AS dan Korut, saling berbalas retorika ejekan menghiasi komunikasi antara kedua  belah pihak.

Presiden Trump menyebut pemimpin Korea Utara sebagai “orang gila (mad man)” pada hari Jumat (22/9), sehari setelah Pemimpin DPRK (Korut)  Kim Jong un menjulukinya sebagai “Dotard AS yang gila mental”.

Walhasil, kata dalam bahasa Inggris ‘Dotard’ yang dikemukakan pihak Korut ini kemudian sempat menjadi trending topic masyarakat Dunia, bahkan dicari terjemahannya, karena isitilah  kata ‘Dotard’ dalam bahasa Inggris adalah tidak lazim digunakan di masa kini.

Kata Dotard ini adalah bahasa Inggris kuno adalah serupa dengan pengertian ‘orang tua bodoh’, kata ini tidak lazim digunakan, dan orang harus mencari terjemahan yang pas dalam kamus Inggris lama, dimana kata ini telah  digunakan sejak pada abad ke-14.

Atas memanasnya situasi antara AS dan Korut, maka Rusia meminta semua pihak untuk menenangkan diri.

“Kami harus menenangkan kepala yang panas,” kata Menlu Rusia Sergey Lavrov mengatakan kepada wartawan di Perserikatan Bangsa-Bangsa pada hari Jumat (22/9), di mana para pemimpin dunia berkumpul minggu ini di Majelis Umum tahunan PBB tersebut.

“Kami terus mengupayakan pendekatan yang masuk akal dan tidak emosional … dari perkelahian taman kanak-kanak di antara anak-anak,” ujarnya mengibaratkan adanya saling berbalas retorika panas antara AS dan Korut sebagai perkelahian anak TK (taman kanak-kanak).

Pada hari Kamis (21/9), Menteri Luar Negeri Korea Utara Ri Yong Ho memperingatkan bahwa pemimpin Kim dapat mempertimbangkan sebuah tes bom hidrogen dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya di Pasifik.

Menlu Korut (DPRK) Ri Yong Ho, yang akan berbicara dengan PBB pada hari Sabtu (23/9), menambahkan bahwa dia tidak tahu pikiran pasti pemimpin Korut Kim Jong un.

Sebagai tanggapan, Menlu AS (Secretary of State) Rex Tillerson mengatakan bahwa upaya diplomatik Washington akan berlanjut, namun semua opsi militer masih ada di atas meja, artinya masih bisa tersedia, jika dipilih.

Jepang, satu-satunya negara yang pernah mengalami serangan atom dalam perang dunia kedua di masa silam, menggambarkan ancaman dari Korut sebagai “sama sekali tidak dapat diterima”.

Sementara itu negara China, sebagai tetangga Korea Utara menanggapi dengan meminta semua pihak untuk dapat menahan diri. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *