oleh

Saksi Mengaku Pernah Berikan Uang Rp 1 M ke Orang Dekat Irwandi Yusuf

PENANEGERI, Jakarta – Majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta menggelar sidang kasus suap yang menjerat terdakwa mantan Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam, Irwandi Yusuf, Teuku Saiful Bahri dan Hendri Yuzal, Senin (11/2).

Kali ini, sidang menghadirkan tujuh orang saksi, yaitu Direktur PT Kenpura Alam Nanggroe, Dedi Mulyadi, Staff Keuangan PT Kenpura Alam Nanggroe. Selain itu, anggota DPRD Provinsi Aceh, Samsul Bahri, Irfan dari pihak swasta, Muchlis dari pihak swasta, Apriansyah dari pihak wiraswasta, dan kerabat Steffy Burase, Farah Amalia.

Di persidangan itu, Direktur PT Kenpura Alam Nanggroe, Dedi Mulyadi mengungkapkan, pernah menyerahkan uang Rp 1 miliar kepada Teuku Saiful Bahri, orang dekat Irwandi. Uang diberikan agar perusahaan Dedi dimenangkan di lelang proyek.

“Saya minta Saiful supaya dimenangkan perusahaan saya. Beliau bilang ini lebaran, mungkin ada kebutuhan untuk megang,” tutur Dedi, di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (11/2).

Menurut dia, megang adalah acara syukuran yang menjadi tradisi di Aceh menjelang Lebaran. Megang biasanya diadakan oleh para pejabat Aceh, termasuk diantaranya Gubernur Aceh.

Semula Saiful, kata dia, tidak menyebut nominal uang diminta. Dedi menawarkan memberikan Rp 500 juta.

Namun, menurut Dedi, Saiful memberitahu dana yang diperlukan bisa lebih dari itu. Belakangan disepakati, Dedi memberikan Rp 1 Miliar.

Seperti telah diberitakan sebelumnya, Irwandi Yusuf didakwa menerima suap Rp 1,050 miliar melalui staf khususnya Hendri Yusal dan kontraktor Teuku Saiful Bahri dari Bupati nonaktif Bener Meriah Ahmadi.

Baca Juga  Jika Terbukti Lalai, DPRA Akan Panggil Pihak SUPM Ladong Aceh Besar 

Ahmadi memberikan uang secara bertahap agar kontraktor rekanan Ahmadi dari Bener meriah bisa mendapatkan proyek pembangunan di Bener Meriah yang bersumber dari Dana Otonomi Khusus Aceh TA 2018.

Tidak hanya itu, Irwandi juga didakwa menerima gratifikasi total Rp 8,7 miliar dari rekanan proyek maupun timses yang akan mengikuti paket pekerjaan pengadaan barang dan jasa di lingkungan Pemprov Aceh.

Bahkan gratifikasi juga diterima Irwandi melalui mantan model Steffy Burase dari Teuku Fadhilatul Amri setelah mendapat perintah transfer dari Teuku Saiful Bahri.

Terakhir Irwandi yang menjabat sebagai Gubernur Aceh periode 2007-2012 juga didakwa turut serta melakukan dengan orang kepercayaannya, Izil Azhar menerima gratifikasi Rp 32,4 miliar. Sehingga total keseluruhan suap dan gratifikasi yang diterima Irwandi yakni Rp 42,22 miliar.

Dedi yang mengaku sebagai Direktur PT Kenpura Alam Nanggroe duduk sebagai saksi dalam persidangan. Jaksa membacakan berita acara pemeriksaan (BAP) Dedi yang berisi percakapan antara Dedi dengan Teuku Saiful Bahri.

Saiful Bahri turut didakwa bersama-sama Hendri Yuzal sebagai perantara suap untuk Irwandi. Mereka bertiga pun duduk sebagai terdakwa dalam persidangan itu.

“(Dalam) BAP, ada percakapan dengan Saiful Bahri. (Saiful bilang) Kalau berminat dapat kerjaan di PUPR, saya bisa bantu ngurusin. Anda bilang, ‘Boleh bang, saya berminat’. (Saiful bilang) Kalau berminat ada dana partisipasi karena menyambut Lebaran untuk Gubernur Aceh,” ucap jaksa KPK membacakan isi BAP Dedi dalam persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Senin (11/2).

Baca Juga  Sidang Lanjutan Kasus Wartawan Bireuen, Ahli ITE Dihadirkan

“(Dedi bilang), ‘Oke saya ikut, berapa?’ (Saiful jawab), ‘Kasih Rp 1 miliar’,” imbuh jaksa.

Setelah isi BAP yang dibacakan jaksa berisi pengakuan Dedi bila Rp 1 miliar itu diserahkan dalam bentuk cek pada seorang bernama Hasrudin. Kemudian, Hasrudin melapor pada Dedi kembali bila cek itu sudah diuangkan dan diambil orang kepercayaan Saiful Bahri bernama Teuku Fadhilatul Amri.

Dedi yang mendengarkan isi BAP-nya yang dibacakan jaksa mengamininya.

“Iya benar,” jawab Dedi yang membenarkan BAP yang dibacakan jaksa.

Jaksa kemudian menanyakan pada Dedi tentang barang bukti yang didapat dari penggeledahan salah satu lokasi atas nama Mamik Riswanti (Komisaris PT Kenpura Alam Nanggroe yang juga istri Dedi). Barang bukti itu disebut jaksa berupa catatan bertuliskan ‘kewajiban’ untuk orang lain.

Dedi memaparkan bila catatan itu berisi aliran uang berkaitan dengan proyek yang dikerjakan perusahaannya. Dia pun menyebutkan satu per satu isi catatan itu.

“Yang berkaitan dengan proyek Pak Indra untuk pembelian alat Rp 1,5 miliar truk dan eskavator. Dengan Pak Jufri pinjaman dikembalikan sudah kembali. Bu Linda itu paket pengerjaan mereka yang punya, saya beli dengan memberikan kompensasi itu. Mereka menang tender saya beri kompensasi itu,” kata Dedi.

Baca Juga  Menteri Sofyan A Djalil Minta Mahasiswa IAIN Langsa tidak Terpengarauh Berita Hoax

Jaksa heran dengan bahasa ‘kewajiban’ yang digunakan Dedi dalam catatan itu. Jaksa pun menanyakan apakah ‘kewajiban’ yang dimaksud Dedi merupakan commitment fee.

“Jujur sajalah, kewajiban artinya commitment fee yang diberikan? Betul itu? tanya jaksa.

“Iya betul,” ucap Dedi.

Jaksa kembali menilik catatan ‘kewajiban’ milik Dedi tersebut. Di dalamnya, jaksa menemukan adanya aliran uang Rp 1 miliar untuk Zal Nasir Djamil.

“Di sini Zal Nasir Djamil Rp 1 miliar. Ini maksudnya apa? Terkait apa ini? tanya jaksa lagi.

“Si Rizal itu adalah asistennya Pak Nasir Djamil,” jawab Dedi.

Dedi menyebut Nasir Djamil yang dimaksudnya adalah anggota DPR. Sedangkan Rizal diakui Dedi sebagai orang yang kerap menawarinya proyek.

“Tapi Pak Nasir nggak tahu apa-apa itu. Itu tidak dengan Bang Nasir. Yang menawarkan pekerjaan itu si Rizal kepada saya,” ucap Dedi.

Selain itu, Irwandi didakwa menerima gratifikasi Rp 41,7 miliar selama menjabat Gubernur Aceh. Irwandi menjabat Gubernur Aceh periode 2007-2012 dan periode 2017-2022. (*/tribun/dtc)

Video Youtube :

Komentar

Berita Terbaru