oleh

Seekor Gajah Ditemukan Mati di Perkebunan PT Atakana

-Aceh-142 views

PENANEGERI, Aceh Timur – Seekor gajah ditemukan mati di areal perkebunan milik PT Atakana yang diberada di Gampong Seumanah Jaya, Kecamatan Ranto Peureulak, Aceh Timur.

Kapolres Aceh Timur, AKBP Eko Widiantoro, SIK, MH kepada Penanegeri.com, Kamis (21/11) menuturkan, penemuan gajah dalam kondisi mati itu pada Rabu (20/11) sekitar 12.30 WIB, saat petugas petugas dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh bersama Mahout (pawang gajah) Conservation Response Unit (CRU) Serbajadi, Kabupaten Aceh Timur melakukan patroli gajah di wilayah Kecamatan Ranto Peureulak.

Saat patroli, tiba-tiba mendapat laporan dari Kepala Produksi PT Atakana, Julfikar, bahwa ada seekor gajah mati. Mendapat laporan tersebut Tim BKSDA dan CRU Serbajadi langsung menuju ke lokasi dan selanjutnya melaporkan ke Polsek Ranto Peureulak dan Kantor BKSDA Aceh perihal tersebut.

Kemudian, pada hari ini (Kamis) pagi Unit Identifikasi (Inafis) Satreskrim Polres Aceh Timur terlebih dahulu memasang garis polisi disekitar lokasi gajah mati ini.

Kapolres menjelaskan, untuk menyelidiki kematian gajah tersebut, Kasat Reskrim Polres Aceh Timur AKP Dwi Aris Purwoko, SIK bersama anggota melakukan penyisiran dalam radius 100 meter dari lokasi. Hal ini untuk mengetahui apakah ada benda-benda yang mencurigakan.

Baca Juga  Plt Disdik Dayah Bireuen Diduga Kuasai 3 Unit Kendaraan Dinas

Kemudian, tindakan selanjutnya Kanit Identifikasi Satreskrim Polres Aceh Timur, Brigadir Mirza Alvaro bersama Tim Dokter dari BKSDA Aceh yang diketuai, drh Rosa melakukan nekropsi (pemeriksaan kematian) terhadap gajah yang diperkirakan berumur 25 tahun dan meninggal sekitar lima hari yang lalu.

“Nekropsi ini bertujuan untuk mengetahui apa penyebab kematian gajah yang mati dengan melakukan pembedahan untuk mengambil hati, jantung, usus, limpa, lidah dan cairan usus dan kotoran gajah yang mati tersebut. Sampel yang diambil akan dibawa ke Laboratorium di Medan guna diteliti apa penyebab kematian gajah tersebut,” terang Kapolres.

Untuk hasil laboraturium itu sendiri, lanjut Kapolres, sekitar satu bulan ke depan baru bisa diketahui secara pasti apa penyebab kematian satwa yang dilindungi ini.

“Kami mengimbau kepada masyarakat untuk tidak membunuh atau meracuni satwa dilindungi tersebut, selain melanggar hukum juga akan merusak habitat alam,” pinta Kapolres.

Komentar

Berita Terbaru