oleh

Sembilan puluh Orang dikhawatirkan tewas akibat Kapal Karam di lepas pantai Libya

PENANEGERI, Internasional- Menurut laporan Organisasi Internasional untuk Migrasi (International Organization for Migration (IOM),sedikitnya sekitar 90 orang telah tenggelam setelah kapal yang mereka tumpangi karam di laut sebelah barat Libya.

Seorang juru bicara IOM yang berafiliasi dengan PBB mengatakan bahwa 10 mayat telah hanyut di dekat kota Zuwara,yang terdiri dari delapan warga Pakistan dan dua warga Libya.

Akhir-akhir ini cenderung meningkat jumlah orang yang mencoba perjalanan berbahaya melintasi Laut Tengah ke Italia dari Afrika Utara, kata juru bicara IOM, Olivia Headon.

“Mereka telah memberikan perkiraan 90 orang yang tenggelam dalam keadaan terbalik, namun kami masih perlu memverifikasi jumlah pastinya dari orang-orang yang kehilangan nyawa selama tragedi tersebut,” kata Olivia Headon, yang berbicara dari Tunis, mengatakan pada sebuah konferensi pers di Jenewa, hiar Jumat (2/2).

Sebuah kapal nelayan menyelamatkan satu orang yang selamat, dan dua lainnya berhasil berenang ke darat.

Keadaan seputar bagaimana kapal mengalami kesulitan dan akhirnya terbalik masih belum jelas.

Baca Juga  Batasi Imigran Islam, Angelina Jolie Kecam Donal Trump

Rute dari Libya melalui Laut Tengah ke Italia dan negara-negara Uni Eropa lainnya telah diarungi oleh para migran sejumlah hampir 120.000 orang pada tahun 2017.

Ketika pihak berwenang di UE dan Turki bekerja untuk menekan rute antara pantai Turki dan pulau-pulau Yunani, para pengungsi dan migran mencari rute alternatif ke Eropa.

Libya, dengan lemahnya pemerintahan pusat dan kedekatannya dengan wilayah Italia, semakin menjadi pilihan pilihan bagi banyak pengungsi meskipun ada bahaya yang terjadi dalam melintasi Laut Tengah.

Penyelundup orang sering mengirim pengungsi dalam perjalanan mereka ke kapal yang penuh sesak dan tidak terawat dengan baik yang cenderung terbalik atau tenggelam.

IOM menggambarkan Laut Mediterania sebagai perbatasan paling mematikan di dunia. Perairan tersebut merenggut nyawa 3.116 orang yang mencoba menyeberang ke Eropa pada 2017.

Negara-negara Uni Eropa, termasuk Italia, bekerja sama dengan pihak berwenang Libya untuk membendung arus pengungsi yang berusaha melakukan perjalanan namun pejabat Libya mengatakan bahwa mereka tidak memiliki sumber daya untuk menangani masalah ini.

Baca Juga  Krisis Pengungsi Berlanjut, Anak-anak Rohingya Terkena Dampak

Pada tanggal 10 Januari 2018, sekitar 100 pengungsi meninggal saat perahu karet yang mereka tumpangi terbalik. (*)

Komentar

Berita Terbaru