oleh

Sepenggal Derita Jafadli, Suami Magfirah dan Tiga Buah Hatinya di Rutan Bireuen

-Aceh-2.005 views

Bireuen – Suasana alam kota Bireuen, Selasa (11/12) sore kemarin sedikit buram, mengintai matahari yang mulai diselimuti mendung, diantara gemuruh deru kendaraan yang lalu lalang di Jalan Laksamana Malahati, Kota Juang, Bireuen.

Diluar jeruji besi Rumah Tahanan (Rutan) Bireuen, seorang lelaki dengan tenang berdiri diantara beberapa petugas Sipir, hanya mampu menatap dengan tatapan kosong. Itulah Jafadli (29) suami Magfirah (27) warga Beuringin, Pereulak Timur, Aceh Timur yang kini harus mendiami ruangan tahanan Rutan Bireuen.

Di bagian lorong yang menjorok kedalam, samping pos utama Rutan Bireuen, Maghfirah dan tiga bayi kembarnya, Muhammad Furqan, Jihan Faiha dan Jihan Farahah yang masih berusia 3 bulan itu ikut berada di ruangan 4×4 meter.
Ketiganya masih tertidur pulas di ayunan kecil yang terpasang di ruangan, ditemani beberapa napi perempuan yang tersandung sejumlah kasus di Rutan itu.

Suami Magfirah, Jafadli melangkah dengan guntai menyelusuri kecil, ingin menjenguk ketiga anak tercintanya, Muhammad Furqan, Jihan Faiha dan Jihan Farahah.

Baca Juga  Di Rutan Bireuen, Magfirah : Saya Pasrah dan Berserah Diri Kepada Allah

“Saya sering ke sini, bahkan saya juga tidur di mushalla Rutan Bireuen, seizin Kepala Rutan Bireuen, bila menjenguk mereka,” tuturnya lirih.

Jafadli yang sehari-hari bekerja sebagai buruh bangunan di Banda Aceh ini terlihat masih tetap bisa tersenyum, tak kala Ia bercanda dengan tiga buah hatinya, didampingi istrinya, Magfirah di ruangan tahanan Rutan Bireuen.

Sesekali, Magfirah ikut menggendong satu dari ketiga anaknya sambil tersenyum lirih dengan beban yang dipikul, pasca tersangkut kasus penipuan atau calo CPNS yang terjadi tahun 2015 silam.

Sedih, dan berbalut rasa empati, kala Penanegeri.com mengabadikan suasana keluarga mereka yang kini harus terbebani dengan kasus yang menimpanya.

Menurut Jafadli, sebelum mereka berumah tangga awal tahun 2017 lalu, Ia berkenalan dengan Magfirah di Takengon, kendati sebelumnya Magfirah sempat menempuh kuliah di Almuslim, Peusangan, Bireuen.

“Kalau kasus yang menimpa Magfirah itu tahun 2015, sehingga saya tidak tahu persis bagaimana kejadian awalnya, sehingga Magfirah harus berusan dengan hukum,” katanya.

Magfirah
(Penanegeri/Joniful Bahri) : Jafadli dan Magfirah warga Beuringin, Pereulak Timur, Aceh Timur saat bertemu ketiga bayi kembarnya, di dalam Rutan Bireuen, Selasa (11/12) sore.

Kendati demikian, Jafadli tetap mendampingi Magfirah meski harus berurusan dengan hukum, karena Ia ibu dari ketiga buah hatinya.

Baca Juga  LSM Fota : Harusnya Penegak Hukum di Bireuen Berikan Kuasa Hukum Terhadap Magfirah

“Semuanya sudah terjadi, mungkin keinginan kedepan saya dan Magfirah serta anak-anak bisa hidup dengan bahagia, ketiganya butuh pendidikan dan kasih sayang,” tuturnya.

Diakui Jafadli selama terjerat dengan persoalan ini, mereka sempat melakukan perdamaian dengan pihak keluarga korban, dengan cara tetap membayar uang yang telah diambil istrinya dari korban.

“Surat perjanjiannya damai dan menyelesaikan secara kekeluargaan sudah kami tandatangani, dengan cara membayar secara cicilan. Tapi terakhir korban tetap melapor ke pihak kepolisian, sehingga istri saya harus berusan dengan hukum,” terangnya.

Beranjak dari persoalan itu, sejatinya penegak hukum sebut saja hakim di Pengadilan dan Kejaksaan Bireuen menanyakan secara detil, bagiamana proses antara korban dan pelaku, saat Magfirah berada di persidangan, apa lagi didukung dengan surat perjanjian damai dengan pihak korban.

“Saya tak tahu pasti bagaimana kasus yang menjerat istri saya itu dan berapa jumlah korbannya. Namun setahu saya hanya satu, tapi kata jaksa, ada 4 korban lainnya. Selama ini, mulai dari pemeriksaan di polisi sampai ke persidangan, istri saya memang tak didampingi pengacara.

Baca Juga  Ketua Fraksi Partai Aceh Kunjungi Magfirah dan Bayinya di Rutan Bireuen

Awalnya memang pernah ditawari pengacara negara, yakni Pak Husein, namun Ia sekarang statusnya sebagai caleg, sehingga tak bisa mendampingi istri saya,” pungkasnya.

Kepala Rutan Bireuen, Sofyan SH kepada Penengeri.com mengatakan, Jafadli justru menyebutkan, kalau istri dan ketiga bayi kembarnya lebih nyaman di sini, daripada harus tinggal di luar Rutan, seperti di rumah aman di Desa Geudong-Geudong, Kota Juang, Biireuen, selama hampir dua bulan.

“Kalau dilihat, memang mereka lebih nyaman di sini, apa lagi ketiga bayi kembar itu dibantu beberapa napi perempuan, meski Ketua Fraksi Partai Aceh DPRA, Iskandar Usman Al-Farlaky berencana menjadi salah satu penjamin untuk mengajukan penanguhan penahan mereka,” sebutnya.

Komentar

Berita Terbaru