oleh

Serangan Terhadap Pasukan Penjaga Perdamaian PBB Cenderung Meningkat

PENANEGERI, Internasional- Ancaman serangan terhadap pasukan ‘helm biru’, isitilah untuk pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kini menghadapi ancaman yang semakin parah dan meningkat.

Termasuk serangan dari kelompok bersenjata yang tidak memiliki kepentingan dalam upaya perdamaian.

Hal ini dinyatakan oleh kepala penjaga perdamaian PBB pada hari Rabu, 24 Januari 2018, menyerukan keterlibatan politik yang lebih besar dan kepemimpinan dari Dewan Keamanan PBB dan negara-negara Anggota badan-badan dunia untuk memastikan Pasukan PBB – dan populasi yang mereka layani – dilindungi dengan lebih baik.

“Kami diserang oleh kelompok bersenjata yang melakukan penjarahan, pembunuhan, pemerkosaan dan mereka tidak tertarik pada solusi damai,” ujar Jean-Pierre Lacroix, Sekretaris Jenderal Operasi Penjaga Perdamaian, mengatakan kepada wartawan di New York pada sebuah briefing mengenai sebuah laporan baru untuk mengurangi korban di antara pasukan penjaga perdamaian PBB, seperti dirilis oleh situs berita resmi PBB, hari Rabu (24/1).

“Jadi, itu karena kita memiliki lingkungan berbahaya yang sangat berbeda yang harus kita ubah,” katanya, menyerukan secara khusus untuk penempatan pasukan yang terlatih, diperlengkapi dengan baik dan dengan pola pikir yang benar.

Baca Juga  PBB Kecam Serangan Bom Mobil di Kabul

Dengan melakukan hal itu, Lacroix menggarisbawahi, tidak hanya akan membantu mengurangi korban jiwa, namun juga akan memfasilitasi pelaksanaan mandat yang ditugaskan pada misi PBB dan melindungi populasi sipil.

Pada bulan November 2017, Sekretaris Jenderal António Guterres telah menunjuk Letnan Jenderal Carlos Alberto dos Santos Cruz dari Brazil, yang memegang jabatan senior di sejumlah misi pemelihara perdamaian PBB, untuk memimpin sebuah kajian tingkat tinggi untuk mengidentifikasi mengapa begitu banyak korban akibat tindak kekerasan dalam beberapa tahun terakhir yang menimpa pasukan perdamaian PBB, dan apa yang harus dilakukan untuk mengurangi korban tersebut.

Dalam publikasi hari Selasa, dikatakan bahwa dengan masuknya kelompok bersenjata, ekstremis, kejahatan terorganisir, dan elemen kriminal lainnya , maka ‘helm biru’ dan bendera PBB, tidak lagi menawarkan perlindungan “alami” kepada pasukan penjaga perdamaian PBB.

Menggambarkan keseluruhan laporan tersebut, sebuah “penilaian yang sangat jujur terhadap masalah dan apa yang harus dilakukan untuk mengatasinya, Jean-Pierre Lacroix mengatakan bahwa sebuah rencana tindakan telah dikembangkan untuk menerapkannya.

Baca Juga  Sekjen PBB Antonio Guterres Minta para Negarawan Hindari Perang

“Laporan Cruz ‘dan rencana tindakan yang akan kami terapkan, adalah tentang mengurangi korban jiwa dalam pemeliharaan perdamaian namun mereka menyentuh sebagian besar masalah yang relevan dengan kinerja. Mereka menangani masalah seperti apakah kita menerapkan peraturan kita sendiri sampai tingkat dasar – apakah kita betindak menurut buku kita sendiri, “tambahnya.

Rencana tersebut berfokus pada tiga aspek utama yakni : perilaku operasional dan pola pikir (operational behaviour and mindset); peningkatan kapasitas dan kesiapan (capacity building and readiness); dan mendukung penyelesaian masalah(support issues) – dan termasuk tindakan segera dari Markas Besar PBB dan pada tingkat lapangan (immediate UN Headquarters and field-level actions).

Sejak 1948, lebih dari 3.500 personil pasukan perdamaian PBB telah kehilangan nyawa mereka dalam operasi perdamaian PBB dengan 943 karena tindakan kekerasan. Sejak 2013, korban jiwa telah melonjak, dengan 195 kematian dalam serangan kekerasan, lebih dari periode lima tahun lainnya dalam sejarah.

Karena makin meningkatnya serangan terhadap pasukan perdamaian PBB ini di area konflik, seolah bendera PBB dan ‘helm biru’ tidak lagi menawarkan perlindungan ‘alami’ kepada para pasukan penjaga perdamaian dunia. (*)

Komentar

Berita Terbaru