oleh

Soal Senjata Api Selesai, Amunisi Dititipkan ke TNI

PENANEGERI, Jakarta – Menko Polhukam Wiranto menyampaikan pemerintah memutuskan amunisi tajam senjata api (senpi) yang tertahan di Bandara Soekarno Hatta akan dititipkan ke Mabes TNI. Senjata api sebelumnya didatangkan Korps Brigade Mobil (Brimob) Polri.

“Amunisi tajamnya dititipkan ke Mabes TNI. Amunisi ada tiga macam, ada smoke atau asap, ada gas air mata, ada yang tajam. Nah, yang tajamnya ini, nanti dititip di Mabes TNI,” jelas Menko Polhukam Wiranto di kantor Kemenko Polhukam, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Jumat (6/10).

Bila Polri membutuhkan amunisi tajam tersebut, ada prosedur dan koordinasi antar lembaga terkait.

Hadir pula Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu dan Kepala Badan Intelijen Nasional (BIN) Jenderal Budi Gunawan, kemudian Direktur Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan Heru Pambudi dan Direktur Utama PT Pindad Abraham Mose.

Menko Polhukam Jenderal TNI (Purn) Wiranto menyampaikan, TNI segera mengeluarkan rekomendasi yang dibutuhkan agar senjata bisa segera diambil dari bandara Soekarno-Hatta. Namun, mantan Panglima ABRI ini menegaskan, penerbitan rekomendasi hanya dilakukan dengan catatan tak ada amunisi tajam yang turut diambil Polri.

“SAGL 40 x 46 (milimeter), yang masih tertahan di Bea Cukai Bandara Soekarno-Hatta, segera dikeluarkan rekomendasi (untuk mengambilnya) dari Panglima TNI,” ujar Wiranto.

Keputusan ini diambil setelah Wiranto mengumpulkan pejabat terkait untuk menyelenggarakan Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas). Rapat ini terkait membahas impor senjata api. Rapat dihadiri Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

Sebelumnya, ramai diberitakan terkait kedatangan ratusan senjata di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Jumat malam, 29 September 2017. Senjata dan amunisi tiba sekitar pukul 23.30 WIB. Diketahui, senjata diimpor PT Mustika Duta Mas dengan menggunakan pesawat carter model Antonov AN-12 TB dengan Maskapai Ukraine Air Alliance UKL-4024 dan akan didistribusikan ke Brimob Polri.

Kedatangan amunisi senjata ini pun jadi persoalan dan pertanyaan publik.

Berdasarkan data yang beredar, amunisi senjata di Bandara Soetta berupa senjata jenis Arsenal Stand Alone Grenade Launcher (SAGL) kaliber 40 x 46 milimeter 280 pucuk. Senjata dikemas dalam 28 boks (10 pucuk/boks), dengan berat total 2.212 kilogram.

Ada juga amunition castior 40mm, 40x 46mm round RLV-HEFJ dengan fragmentasi eksplosif tinggi Jump Grenade. Itu dikemas dalam 70 boks (84 butir/boks) dan 1 boks (52 butir). Total ada 5.932 butir (71 boks) dengan berat 2.829 kg.

Terkait amunisi, maka Polri tidak akan menyimpan amunisi atau peluru tajam yang baru saja dibeli. Semua akan dititipkan di Mabes TNI dan baru dikeluarkan terkait kebutuhan.

Regulasi akan Dikaji Ulang

Regulasi pengadaan senjata juga akan dikaji ulang. Proses kaji ulang akan dilakukan Kelompok Kerja (Pokja), yang dibentuk Kemenko Polhukam guna menyikapi polemik senjata Stand Alone Grenade Launcher (SAGL) milik Korps Brimob Polri.

Dari Pihak Kepolisian, Kadiv Humas Polri Irjen (Pol) Setyo Wasisto menjelaskan kepada wartawan bahwa “Nanti akan dikaji ulang (proses pengadaan SAGL). Tadi dari Kemenko Polhukam sudah menyampaikan nanti akan dibentuk Pokja untuk mengkaji lagi,” kata Irjen Setyo kepada wartawan di Rupatama Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (6/10).

Irjen Setyo mengatakan pada 2016 lalu Polri juga memesan peluru tabur, yang disebut Menko Polhukam peluru tajam, sebagai amunisi SAGL.

“(Amunisi SAGL di 2015 dan 2016) Sama, sama (dengan yang dipesan di 2017). Ya nanti Pokja akan mengkaji ulang,” ujar Irjen Setyo.

Irjen (Pol) Setyo Wasisto kemudian menerangkan hak senjata untuk polisi telah dijamin dalam Konferensi PBB tahun 1990.

“Ada dasar hukumnya itu, Konferensi PPB “Basic Principal on The Use of Force and Firearms by Law Enforcement Officials Adopted By 8 United Nation Conference on The Prevention of Crime of The Treatment and Offenders,” terang Irjen Setyo.

“Itu dasar-dasar polisi dimana pun, bisa menggunakan senjata untuk melindungi diri dan jiwa orang lain yang terancam,” terang  Irjen Setyo. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *