oleh

Tangkapan Ikan Menurun, Nelayan Seruway Keluhkan Maraknya Trawl

-Pena Berita-164 views

PENANEGERI, Aceh Tamiang – Hasil tangkapan ikan menurun, nelayan tradisional dipesisir Desa Pusong Kapal, Kecamatan Seruway, Aceh Tamiang mengeluh. Hal itu dipicu maraknya penggunaan jaring trawl/pukat harimau oleh nelayan lokal maupun luar Aceh Tamiang.

“Hasil tangkapan nelayan menurun drastis sejak banyaknya penggunaan trawl diperairan laut Aceh Tamiang. Bahkan dari pagi hingga sore pergi melaut hanya mendapatkan ikan sesikit kadang juga tidak ada,” ungkap Herman (42), salah seorang nelayan tradisional Desa Pusong Kapal kepada awak media, Selasa (11/7) sore di dermaga sandar boat nelayan.

Dikatakannya, belakangan ini para nelayan menyiasati selain mencari ikan, mereka juga menebar jaring udang tiger di laut untuk mendapat penghasilan tambahan.

“Tangkapan ikan kami selalu sedikit sejak boat pukat harimau/trawl bebas dilaut. Mereka menjaring tidak hanya ditengah tapi juga dipinggir, dilokasi kami mencari ikan, sehingga kami tidak kebagian tangkapan,” keluhnya.

Herman menambahkan, selama pukat harimau/trawl sering beroperasi diperairan Aceh Tamiang, nelayan tradisional Pusong Kapal jarang mendapatkan tangkapan ikan berkelas, seperti siakap, kerapu, bawal dan lainnya. Disamping itu, harga ikan laut juga murah ditingkat agen pengecer sehingga membuat kondisi ekonomi para nelayan kian lemah.

“Paling kami hanya dapat tangkapan ikan campur seperti belanak, ikan biji nangka dan anak geregak,” sebutnya.

Menurutnya, nelayan yang menggunakan pukat harimau berasal dari luar Aceh Tamiang. Namun ada juga nelayan lokal dari Seruway ikut menggunakan jaring halus (trawl) tersebut.

“Sekarang sudah tidak tertib lagi dilaut, kami berharap kepada pemerintah untuk segera menindak tegas bagi pengguna alat tangkap trawl, karena dapat mematikan pendapatan nelayan kecil seperti kami,” tandas Herman dengan penuh harapan.

Dilokasi yang sama, Syahril yang juga salah seorang nelayan tradisional setempat menambahkan, setelah lebaran 1438 H, aktivitas nelayan tradisional pesisir Seruway termasuk Pusong Kapal sudah normal kembali. Akan tetapi, jika cuaca buruk mereka tidak melaut dan memilih memperbaiki jaring yang rusak.

“Turunnya hasil tangkapan juga disebabkan faktor cuaca karena gelombang tinggi. Kami hanya bisa mencari ikan dibagian pinggir,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Perikanan pada Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Aceh Tamiang, Sukri yang dihubungi wartawan, Rabu (12/7) tidak membantah banyaknya penggunaan alat tangkap trawl dilaut. Kendati Demikian, pihaknya tidak bisa berbuat banyak. Pasalnya, selain DKP tidak memiliki penyidik pegawai negeri sipil (PPNS), mayoritas pengguna trawl/pukat harimau merupakan nelayan lokal.

“Iya benar, akibat beroperasinya trawl pendapatan nelayan kecil jadi terganggu. Tapi kita tidak ada penyidik untuk menindak itu. Dulu ada satu orang penyidik DKP, namun sekarang sudah pindah tugas ke Satpol PP Aceh Tamiang,” jelas Sukri.

Untuk menertibkan alat tangkap pukat harimau, sambung Sukri, ibarat makan buah simalakama, sebab yang menggunakan kebanyakan nelayan lokal yang juga mencari nafkah dari sektor perikanan tersebut. Namun, DKP tetap berupaya untuk merubah penggunaan alat tangkapnya agar semua nelayan mendapat penghasilan yang maksimal.

“Kami tidak tutup mata, jika tidak tahun ini, tahun depan sudah kita usulkan alat tangkap yang ramah lingkungan pengganti alat tangkap trawl tersebut. Selain itu kita juga berharap pemda dapat menyekolahkan lagi penyidik-penyidik baru untuk membantu DKP jika ada temuan kasus menyangkut perikanan,” pungkasnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *