oleh

Terlalu Tipis dan Tak Diratakan, Warga Tolak Pengerasan Jalan Kampung Besar

-Pena Berita-138 views

PENANEGERI, Aceh Tamiang – Melalui Kepala Dusunnya, warga Kampung Besar, Kecamatan Banda Mulia, Kabupaten Aceh Tamiang protes terhadap hasil proyek pengerasan jalan di desa mereka yang dikerjakan asal jadi dan diduga tidak sesuai spesifikasi.

Pengerasan jalan sepanjang 1,2 Km yang meliputi dua dusun, yakni Dusun Seulanga dan Dusun Jeumpa. Kondisi badan jalan hasil pengerasan semakin hancur saat diguyur hujan. Akibatnya, warga kesulitan saat melintasi jalur tersebut.

Informasi diperoleh Penanegeri.com di lapangan menyebutkan, sejumlah warga termasuk dua Kepala Dusun (Kadus) tidak terima dengan hasil pengerasan jalan di Kampung Besar. Pasalnya, kondisi jalan bukan tambah bagus, justru sebaliknya makin hancur. Terlebih, pengerasan jalan di dusun Jeumpa sepanjang 50 meter sama sekali belum dikerjakan.

Sedangkaan di dusun Seulanga kondisi pengerasan jalan dianggap belum sesuai, diantaranya, material tanah timbun yang digunakan minim bebatuan, ketebalan dan kepadatan jalan kurang maksimal sehingga badan jalan mudah hancur. Disisi lain, kondisi jalan yang sebelumnya lebar kini menjadi lebih kecil sehingga membuat kendaraan tidak bisa berselisihan.

“Kami minta jalan ini bukan hanya diperbaiki tapi dibangun ulang,” tandas Kadus Seulanga, Rizal didampingi sejumlah warga, Selasa (22/8) di lokasi pengerasan jalan.

Sebelumnya, proyek penge­ra­san jalan dengan volume sekitar 1,2 kilometer ini dilaporkan su­dah selesai, na­mun belum dilakukan serah te­rima oleh datok penghulu (kades) setempat. Berdasarkan plang di lokasi proyek, anggaran proyek pe­nge­rasan jalan tersebut bersumber APBK 2017 senilai Rp185 juta lebih, dikerjakan oleh CV ATP.

“Katanya kalau cuaca bagus mereka (kontraktor) akan datang memperbaiki jalan, tapi sudah beberapa hari ini cuaca panas mereka tidak ada datang juga,” tuturnya.

Sementara itu, Kadus Jeumpa, Parmin menyatakan, sejumlah warga Kampung Be­sar, Kecamatan Banda Mulia me­nilai proyek pengerasan jalan di­buat asal jadi oleh pihak rekanan. Se­bab, ada ditemu­kan material ta­nah belum diratakan sehingga membuat badan jalan becek dan licin saat diguyur hujan. Padahal, dusun Jeumpa merupakan akses alternatif keluar masuk me­nuju desa tetangga seperti Matang Caneng, Desa Paya Rahat bahkan tembus ke jalan nasional.

“Pak Camat pun selalu lewat sini, tapi pernah ada mobil pik-up membawa muatan kelapa terpater di jalan ini. Kami sangat kecewa karena jalan sudah mirip kubangan kerbau,” ujarnya dengan nada kecewa.

Warga lainnya, Misman, Dedi dan Iwan merasa kecewa de­ngan kon­disi akses jalan dusun yang ber­tambah licin pasca­ dilakukan pe­ngerasan jalan. Selain itu, pengerasan badan jalan meng­gu­nakan material tanah kuning yang minim bebatuan membuat jalan mudah becek.

“Kami lihat banyak ta­nah kuning saja. Seharusnya jalan ditimbun menggunakan ta­nah bercam­pur batu, lalu dipadat­kan agar jalan tidak becek dan hancur jika diguyur hujan,” kata mereka.

Meski proyek pe­ngerasan jalan sudah selesai, na­mun belum dilaku­kan serah te­rima. Pihaknya juga berencana me­nolak jika dila­kukan serah te­rima dengan kondisi fisik penge­rasan yang asal asalan seperti itu.

“Kami lihat kon­di­sinya belum layak. Warga bersama datok menolak serah terima kalau hasil ak­hirnya seperti ini,” tegas perwakilan warga Kampung Besar.

Dihubungi terpisah, Pejabat Pe­lak­sana Teknis Kegiatan (PPTK) Dinas PUPR Aceh Tamiang, Indra, kepada awak media, Selasa (22/8) menjelaskan, proyek pengerasan jalan di Kampung Besar belum selesai dikerjakan karena faktor cuaca.

“Pengerasan jalan itu belum selesai karena musim hujan terus, nanti kalau cuaca bagus akan dilanjutkan kembali,” tandasnya seraya menambahkan, pihaknya tidak akan mencairkan anggaran jika hasil pekerjaan tidak diterima oleh masyarakat dan tidak sesuai perencanaan awal.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *