oleh

Tgk Daud Tetap Semangat Menggais Rezeki dengan Sepeda Ontel Tuanya di Kota Bireuen

Bireuen Pagi menjelang siang, aroma lintasan Jalan Nasioanal Medan-Banda Aceh, kawasan Geulanggang, Kota Juang, Kabupaten Bireuen mulai berbalut debu, disaat matahari merangkak pergi.

Seorang lelaki tua dengan wajah penuh harap, bermodal kekuatan yang masih tersisa diujung nadinya, Ia mendorong sepeda Ontel Valuas Tahun 1951 peninggalan Belanda.

Sepeda bekas yang dibelinya di tahun 1950 itu penuh dengan bermuatan buah kepala kupas, kelapa muda, asam sunti dan asam jawa serta buah sirsak masak didorong untuk dijajakannya.

Sepuluh tahun, tentu bukan waktu yang singkat, itulah M Daud (78) atau sering disapa Tgk Daud, warga Dusun Uteun Geulinggang, Desa Uteun Reutoh, Kota Juang, Kabupaten Bireuen saban hari menjajakan barang dagangannya ke sejumlah pelosok Kota Bireuen, terutama kawasan Geudong-Geudong.

“Kalau satu hari biasanya laku Rp70 ribu sampai Rp 100 ribu. Tapi semua barang ini saya beli di sekitar gampong, lalu saya jual lagi, kalau sorenya baru saya pulang” katanya penuh iba.

Meski wajahnya mulai terlihat keriput, namun lengannya masih tetap kekar, dan legam dibakar matahari tak menyurutnya untuk tetap mencari rezeki yang halal, dan tidak mau memita minta.

Baca Juga  Kominfo Langsa Gelar Sosialisasi Integrasi Jaringan Internet

Suami Ramlah ini, awalnya bekerja sebagai pemanjat kelapa di kampungnya, namun usianya yang telah dikurnai cicit ini tak mampu lagi harus bertarung dengan tingginya pohon kelapa, Iapun harus beralih untuk berjualan keliling.

Disinggung, apakah selama ini Ia pernah dibantu oleh pemarintah setempat, wajah Tengku Daud sedikit moneleh ke bawah seraya mengaku, hanya bantuan beras Raskin di kampung.

“Kalau warga lain ada yang bilang agar meminta bantuan dari Pemerintah Bireuen, tapi  saya malas mengurus untuk meminta bantuan, karena banyak sekali prosudurnya. Kalau orang bupati Saifannur itu mau bantu saya, ya dibantu saja. Kalau datang dan jumpai bupati saya malas,” katanya jujur.

Tengku Daud yang masih bisa dan suka membaca sejarah ini juga mengaku, dirinya merasa lebih baik menjajakan dagangannya, meski usianya tidak muda lagi.

“Sebenarnya dengan kondisi usia seperti ini, saya tentu sudah menjadi tangung jawab pemerintah, tapi seperti yang saya bilang tadi. Kalau memang pemerintah ada niat membantu ya dibantu,” tegasnya.

Baca Juga  Mantan Aktivis Mahasiswa Dirikan Lembaga GerTaK

Dengan bermodal semangat, sepeda ontel tua yang masih terlihat kuat tak menyurutkan langkahnya untuk terus didorong, kecuali saat pulang sore harinya, lalu Ia mengayuh sepeda yang telah menamaninya selama 78 tahun.

“Sepeda ini merupakan peninggalan, dan pernah diminta beli oleh tentra (TNI) saat sedang ramainya orang bersepeda seperti ini (komunitas ontel_red). Tapi saya tidak menjualnya,” sebutnya.

Diakuinya, sepeda ini dibelinya saat Ia masih sekolah SRI di kawasan Cot Bada, Peusangan. Kondisnya masih sangat bagus dan tahan, untuk mengangkut padi di sawah bisa terangkut hingga 3 goni.

Beranjak dari keluhan Tengku Daud, sejatinya pemerintah daerah memiliki kepekaan terhadap kondisi warganya, seperti halnya Tengku Daud ini. Tapi sayangnya hal itu terbaikan, kendati Tengku Daud butuh modal usaha. Setidaknya dapat merigankan beban keluarganya.

Lalu, sudahkan ini ditunaikan oleh Pemerintah Daerah dibawah Bupati Saifannur yang sudah memimpin Kabupaten Bireuen hampir dua tahun. Wallahu a’lam bis-shawab? Tentu banyak yang berharap, semoga Bupati Saifannur terbangun dari mimpinya kala Ia berkampanye dulu.

Komentar

Berita Terbaru