oleh

Tolak Tuntutan untuk Tutup Al Jazeera

PENANEGERI, Desk Internasional- Organisasi Jurnalis Dunia Internasional yakni ‘Reporter Without Borders’ telah menolak Tuntutan terhadap Penutupan kantor berita dan Stasiun Televisi Al jazeera.

Reporter Without Borders, sebuah organisasi nirlaba yang mempromosikan kebebasan pers, telah mengecam tuntutan Arab Saudi dan negara-negara Arab lainnya yang ingin menutup jaringan Al Jazeera dan media lainnya di Qatar.

Negara-negara Teluk mengeluarkan daftar 13 poin pada hari Jumat (23/6), menuntut penutupan semua outlet berita yang didanai, secara langsung dan tidak langsung, termasuk  media : Arabi21, Rassd, Al Araby Al Jadeed, Mekameleen dan Middle East Eye.

“Kami benar-benar khawatir dengan implikasi dan konsekuensi dari persyaratan tersebut jika akan diterapkan,” kata Alexandra El Khazen, kepala Desk Timur Tengah dan Afrika Utara pada Organisasi ‘Reporters Without Borders’.

Berbicara kepada Al Jazeera dari Paris, hari Jumat (23/6)  Khazen mengatakan: “Kami menentang segala jenis penyensoran dan tindakan yang dapat mengancam keragaman dalam lanskap media Arab dan pluralisme misalnya.

“Lansekap media Arab harus memberi ruang dan menerima titik pandang paling luas daripada menerapkan tindakan represif terhadap sudut pandang alternatif yang dianggap mengkritik beberapa pemerintah,” ujarnya.

Sedangkan suara penolakan penutypan Al jazeera juga datang dari Tim Dawson, presiden Persatuan Wartawan Nasional Inggris, yang menyatakan “kengerian mutlak” sebagai reaksi atas apa yang kami sebut “permintaan mengerikan” dan mendesak pemerintah Saudi untuk menarik tuntutan tersebut.

Khazen juga menyampaikan keprihatinan atas dampak tuntutan terhadap karyawan media tersebut.

“Beberapa dari mereka mungkin mendapat tekanan untuk mengundurkan diri atau memilih melakukannya agar sesuai dengan kebijakan negara mereka, jadi kami saat ini menyelidiki hal ini,” katanya.

Reaksi  Kantor Berita dan Stasiun TV Al Jazeera

“Kami terpana melihat permintaan untuk menutup Al Jazeera,” kata Giles Trendle, direktur pelaksana Al Jazeera English,.

“Tentu saja sudah ada pembicaraan tentang hal itu di masa lalu tapi masih sangat mengejutkan dan mengejutkan untuk benar-benar melihatnya secara tertulis. Ini tidak masuk akal karena sama halnya (misalnya) Jerman menuntut Inggris untuk menutup BBC, ” ujar Giles Trendle, direktur pelaksana Al Jazeera English dengan nada heran.

Trendel mengatakan Al Jazeera akan melanjutkan “misi editorial meliput berita dunia dengan cara yang adil dan seimbang”.

“Kami meminta semua pemerintah untuk menghormati kebebasan media. Kami berharap organisasi media lainnya akan mendukung seruan kami untuk mempertahankan kebebasan media,” tambahnya.

Trendle mengatakan akar permintaan untuk menutup Al Jazeera kembali ke 2011 dan saat situasi Arab Springs.

“Pada saat itu, Al Jazeera meliput mimpi dan aspirasi generasi baru. Kami menyediakan platform untuk suara pria dan wanita di jalanan Arab. Kami meliput demonstrasi tersebut dan kami memberikan keragaman. Dari sudut pandang, kami benar-benar suara yang tak bersuara. Saya pikir ada beberapa rezim di wilayah yang tidak menghargai keragaman pandangan itu. Saya pikir itulah alasan mengapa apa yang terjadi di sini, ” terang Trendle, Jumat (23/6).

Negara Arab Saudi, UEA, Bahrain dan Mesir memutuskan hubungan dengan Qatar, mulai pada tanggal 5 Juni 2017 lalu, menuduhnya mendukung “terorisme”.

Qatar telah berulangkali membantah tuduhan tersebut.

Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani mengatakan bahwa Al Jazeera Media Network adalah “urusan dalam negeri” dan tidak akan ada diskusi mengenai nasib kantor berita dan Stasiun TV yang berbasis di Doha, di tengah krisis Teluk.

Untuk membendung aliran reaksi negatif Arab Saudi, UEA dan Bahrain mengambil langkah untuk mengekang warganya agar tidak mengekspresikan pendapat yang menentang kebijakan mereka.

UEA (Uni Emirat Arab) juga telah mengumumkan bahwa setiap ucapan, tindakan dan perkataan warga sipil yang menyatakan keberatan terhadap tindakan ketat Uni Emirat Arab terhadap pemerintah Qatar atau ungkapan rakyat sipil yang menyatakan simpati dengan Qatar, akan ditindak sebagai kejahatan yang dapat dihukum dengan hukuman penjara 3-15 tahun, dan denda tidak kurang dari $ 136.000 (500.000 AED), baik berupa ungkapan simpati pada Qatar itu disuarakan lewat media sosial atau melalui berbagai media massa tertulis atau lisan.

Kriminalisasi simpati dengan Qatar diimplementasikan di Arab Saudi dan Bahrain dengan sedikit perbedaan dalam masa hukuman penjara dan denda.

Khazen mengatakan keputusan untuk menghukum warga adalah “pelanggaran besar kebebasan berbicara dan informasi yang bisa memiliki implikasi serius”.

Wartawan Al Jazeera sering mendapat kecaman, misalnya negara Mesir yang telah memenjarakan reporter Al jazeera Mahmoud Hussein, yang telah dipenjara selama 185 hari dengan dakwaan “menyebarkan berita palsu dan menerima dana moneter dari pihak asing untuk mencemarkan nama baik negara tersebut”.

Sedangkan reporter Al Jazeera lainnya yakni Mohamed dan Mohamed Fahmy telah menghabiskan masa 437 hari di penjara sebelum dibebaskan, kemudian reporter Peter Greste menghabiskan lebih dari satu tahun penjara di Mesir, sebelum akhirnya dibebaskan. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar