oleh

UNICEF : Sisa Senjata Perang Mematikan Membahayakan Lebih dari 220.000 anak di bagian Timur Ukraina

PENANEGERI, Internasional – Ranjau darat, aminisi persenjataan yang tidak meledak dan sisa-sisa bahan eksplosif perang lainnya mengancam kehidupan lebih dari 220.000 anak di bagian timur Ukraina.

Untuk itu Unicef (United Nations Children’s Fund) telah memperingatkan, sekaligus menyerukan kepada semua pihak untuk segera mengakhiri penggunaan senjata mematikan tersebut dan membiarkan kegiatan pembersihan ranjau dimulai.

“Tidak dapat diterima bahwa tempat di mana anak-anak dapat bermain aman kurang dari empat tahun yang lalu sekarang penuh dengan bahan peledak yang mematikan,” kata Giovanna Barberis, kepala operasi UNICEF di negara tersebut, dalam sebuah rilis berita pada hari Kamis (21/12), yang dimuat dalam situs PBB.

“Semua pihak dalam konflik harus segera mengakhiri penggunaan senjata mengerikan yang telah mengkontaminasi masyarakat dan membuat anak-anak dalam bahaya cedera dan kematian,” tambahnya.

Menurut UNICEF, seorang anak menjadi korban yang berhubungan dengan konflik setiap minggu, rata-rata, antara Januari dan November tahun ini di sepanjang jalur kontak timur Ukraina – sebidang tanah seluas 500 kilometer yang memisahkan wilayah yang dikuasai Pemerintah dan non-pemerintah, di mana pertempuran berat paling banyak terjadi.

Ranjau darat, sisa-sisa peledak yang digunakan dalam perang, dan persenjataan yang tidak meledak, merupakan penyebab utama tragedi ini, terhitung sekitar dua pertiga dari semua luka dan kematian yang tercatat selama periode tersebut. Dalam kebanyakan kasus, korban terjadi ketika anak-anak mengambil bahan peledak seperti granat tangan (hand grenades ) dan sekering sumbu peledak (fuse).

“Saya memungutnya dan saya pikir saya menekan sesuatu, dan itu meledak saja. Ada banyak darah …” ujar Aleksey, anak laki-laki berusia 14 tahun, dan masih banyak lagi anak-anak yang menderita cacat seumur hidup.

Aleksey, seorang anak laki-laki berusia 14 tahun, terluka parah dalam satu kejadian tersebut baru-baru ini mengatakan kepada UNICEF : “Saya memungutnya dan saya pikir saya menekan sesuatu, dan itu meledak saja. Ada banyak darah dan jari-jarinya menggantung. Aku begitu ketakutan sehingga mulai gemetar. Aku hampir pingsan.”

Dalam upaya untuk membuat anak-anak sadar akan bahaya tersebut, UNICEF dan mitranya telah melakukan program pendidikan risiko ranjau sejak tahun 2015, kepada lebih dari 500.000 anak di seluruh wilayah.

Badan PBB juga telah memberikan dukungan bantuan psikososial kepada 270.000 anak-anak yang terkena dampak konflik yang sedang berlangsung.

Namun, kesenjangan dana yang ada telah menghambat respons bantuan tersebut.

Dengan hanya beberapa hari tersisa di tahun ini, daya darurat UNICEF untuk mendukung anak-anak dan keluarga mereka di wilayah timur Ukraina hanya 46 persen didanai, sementara program perlindungan anak termasuk pendidikan risiko ranjau dan pemberian dukungan psikososial untuk anak-anak memiliki kesenjangan dana yang lebih besar lagi dari 73 persen. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *