oleh

Usai Dicerai, Data Mualaf ini Diubah Meninggal dan Hidupnya Begitu Menyedihkan

-Aceh, Feature-22.439 views

PENANEGERI, Bireuen – Jatuh tertimpa tangga, begitulah nasib Siti Ainsyah Sianipar (35), dan sebelum memeluk agama Islam tahun 2015 silam, Ia bernama Krisina Boru Sianipar.

Wanita yang begitu tegar dengan sejuta tusukan penderitaan itu harus pasrah, dan kini harus menghidupi ketiga buah hatinya dengan kondisi penglihatan kedua matanya gelap (buta) setelah ditinggalkan suaminya, warga Desa Cot Buket, Kecamatan Peusangan, Bireuen.

Namun yang begitu menyakitkan baginya, usai pisah dengan suaminya, data kependudukannya, telah terhapus dan ikut dinyatakan kalau Siti Ainsyah ini telah meninggal dunia, sehingga Ia tidak bisa berobat menggunakan jasa BPJS.

“Awalnya saya merasa bahagia. Setelah saya masuk Islam hidup saya akan lebih baik, ada yang ikut peduli serta ada yang membimbing saya ke arah yang sempurna. Ternyata saya disia-siakan,” uja Siti Ainsyah kepada Penanegeri.com, Selasa (4/2).

Dikisahkanya, selama ini Ia tinggal di Cot Buket, Peusangan Bireuen belum pernah mendapatkan bantuan apa-apa dari pemerintah setempat, kendati Ia berstatus seorang mualaf, tak kecuali untuk anak-anaknya yang masih sekolah.

Siti Ainsyah lahir di Brandan, Medan Sumatera Utara dan masuk Islam tahun 2016, di Malaysia. Selanjutnya merajut rumah tangga dengan seorang lelaki berinsial Zah hingga Ia dikurnai tiga buah hatinya yakni, Muhammad Nizar kini sekolah kelas 2 di SMPN 2 Bireuen, Khairil Fuadi, siswa SDN 12 Bireuen serta Azila Putri (6).

Selama mengarungi rumah tangga dan tinggal di Dusun Keutapang Ramphak, Desa Cot Buket, Peusangan Ia mengais rezeki dengan berjualan di kantin sekolah SMP 3 Peusangan, Cot Iju.

Namun tuhan berkendaki lain, bulan Desember 2018 Ia diceraikan oleh suaminya, sebut saja Zah dan kini harus tinggal bersama ketiga buahnya hatinya yang butuh biaya hidup, kendati kedua matanya tak mampu melihat lagi.

“Saya terakhir tahu dan dinyatakan sudah meninggal dunia saat berobat mata rumah sakit umum Bireuen, sebab tidak bisa diurus BPJS karena tidak ada data, sehingga saya tidak bisa borobat,” kenangnya berlinang air mata.

Terakhir, dirinya bisa berobat dengan bantuan dan jaminan seorang dokter praktek mata di Matangglumpangdua, Peusangan, Bireuen hingga Siti Ainsyah bisa melakukan pengecekan matanya.

Setelah mengetahui kejadian itu, pihak keluarga suaminya melakukan pengecekan ke Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Bireuen, data kependudukannya memang telah hilang serta dinyatakan meninggal dunia.

Pasca kejadian itu, Siti Ainsyah didampingi pihak keluarga suaminya ikut membuat laporan ke pihak polisi Polres Bireuen terkait pemalsuan data, dan diduga kuat ikut terlibat perangkat gampong tersebut.

“Saya yakin data saya dipalsukan. Dengan sendirinya suami saya bisa kawin lagi dengan wanita lain. Datanya sengaja disebut meninggal dunia, sehingga ia bisa memperoleh surat pengantar nikah (NA) dari Geuchik,” katanya.

Buktinya, sambung Siti Ainsyah setelah dilakukan pengaduan terkait pemalsuan data tersebut, Keuchik Cot Buket, Peusangan mulai ikut membuang badan dalam kasus itu, dan mengatakan tidak tahu.

“Kasus pemalsuan data saya ini tetap harus diproses, dan saya juga meminta pihak Polres Bireuen dapat mengusut siapa pelaku pemalsuan data tersebut, sehingga data saya hilang dan dinyatakan meninggal dunia,” pintanya.

Kendati saat ini, pihak Disdukcapil Bireuen telah menarik balik data yang terhapus itu dan telah mendapat data sesuai Kartu Keluarga (KK) awal, tapi Siti Ainsyah tetap akan meneruskan kasus itu hingga ke meja hijau.

Terlepas dari kondisi itu, ada sebulir asa direlung hati Siti Ainsyah, dimana kedua matanya yang tak mampu melihat lagi itu sangat membutuhkan ulurangan tangan kita semua.

Setidaknya dapat membantu dan ikut menyalurkan biaya kehidupan ketiga buah hatinya yang masih kecil itu, dan kini masih menempuh pendidikan sekolahnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *