oleh

Wartawan Palestina Meninggal Setelah Ditembak oleh Tentara Israel

PENANEGERI, Internasional- Wartawan Palestina bernama Yaser Murtaja meninggal akibat tertembak di perut  saat terjadi protes massa pada hari Jumat (6/4), menjadikan korban tewas menjadi 31 orang sejak 30 Maret 2018.

Wartawan Palestina bernama Yaser Murtaja yang ditembak oleh pasukan Israel selama demonstrasi massa di sepanjang perbatasan Gaza itu, telah meninggal dunia karena luka-lukanya, seperti dilaporkan oleh kantor Berita Al jazeera, Sabtu (7/4).

Yaser Murtaja, seorang fotografer dari agensi Ain Media yang bermarkas di Gaza, ditembak di perut di kawasan Khuza’a di selatan Jalur Gaza pada hari Jumat, (6/4),  menurut keterangan kementerian kesehatan Palestina.

Murtaja, 30, tertembak meskipun mengenakan jaket anti peluru biru yang ditandai dengan kata “pers”, menandakan dia seorang jurnalis.

Hosam Salem, seorang fotografer di tempat kejadian, mengatakan kepada kantor berita Al Jazeera pada hari Jumat (6/4) bahwa ia menyaksikan Murtaja jatuh ke tanah setelah ditembak oleh pasukan Israel.

“Yaser sedang syuting dengan kameranya di sebelahku ketika kami mendengar suara tembakan,” kata Salem. “Dia jatuh ke tanah dan berkata, ‘Saya telah ditembak, saya tertembak.’”

Baca Juga  Majelis Umum PBB Minta Semua Negara Patuhi Resolusi PBB Mengenai status Yerusalem

Sindikasi Jurnalis Palestina (The Palestinian Journalists Syndicate) mengatakan tujuh wartawan lainnya terluka dalam unjuk rasa pada hari Jumat (5/4), dalam apa yang mereka gambarkan sebagai “kejahatan yang disengaja yang dilakukan oleh tentara Israel”.

Serikat wartawan Paletsina itu memposting foto-foto wartawan Khalil Abu Athira, yang ditembak selama liputannya tentang protes Gaza pada hari Jumat.

Mereka juga menyerukan partisipasi massa dalam pemakaman Murtaja, dan untuk protes yang akan diadakan pukul 12 malam (09:00 GMT) di Manara Square di kota Ramallah, Tepi Barat yang diduduki.

Para wartawan Palestina juga menyerukan kepada PBB untuk melindungi wartawan dan menerapkan Resolusi PBB 2222 ke dalam langkah-langkah konkret.

Dalam sebuah pernyataan, tentara Israel mengatakan bahwa “tidak bermaksud untuk menembak wartawan, dan keadaan di mana wartawan yang diduga terluka oleh tembakan tentara Israel tidak diketahui dan sedang diselidiki”.

Selain kematian Murtaja, kementerian kesehatan mengumumkan pada hari Sabtu (7/4), adanya peristiwa tewasnya  seorang lelaki lainnya bernama Hamza Abdel Aal, 20 tahun, sehingga jumlah orang yang tewas selama protes di hari Jumat (5/4) menjadi sembilan orang.

Baca Juga  Utusan PBB untuk Timur Tengah Peringatkan Eskalasi di Gaza

Sebanyak 31 orang Palestina  telah ditembak mati sejak dimulainya protes pada 30 Maret, ketika puluhan ribu orang turun ke daerah perbatasan dengan Israel, menuntut hak untuk kembali bagi para pengungsi Palestina.

Amunisi tajam (live ammunition), peluru baja berlapis karet (rubber-coated steel bullet) dan gas air mata ditembakkan pada unjuk rasa oleh tentara Israel, melukai setidaknya 1.400 orang sejauh ini.

Kementerian kesehatan Palestina melaporkan bahwa pada hari Jumat (5/4), 491 orang terluka oleh amunisi tajam setelah pasukan Israel menembaki para pengunjuk rasa yang berkumpul di dekat perbatasan Israel di Jalur Gaza yang terkepung.
Setidaknya 33 orang yang terluka telah digambarkan oleh kementerian sebagai “kasus-kasus kritis”.

Demonstrasi hari Jumat (5/4) adalah yang kedua dalam beberapa minggu dari rencana duduk selama berminggu-minggu yang dijuluki Great March of Return.

Pesan utamanya adalah untuk menyerukan hak kembali bagi para pengungsi Palestina yang diusir dari rumah mereka di wilayah yang diambil alih oleh Israel selama perang 1948, yang dikenal orang Arab sebagai peristiwa Nakba.

Baca Juga  Hamas dan Fatah Tandatangani Perjanjian Rekonsiliasi di Kairo

Sekitar 70 persen dari dua juta penduduk Gaza dipaksa meninggalkan rumah mereka dan sekarang tinggal di wilayah sekitar 360 km persegi, yang telah digambarkan sebagai “penjara terbuka terbesar di dunia”.

Israel telah dikecam atas perintah-perintah tembakan-terbuka di sepanjang perbatasan, termasuk peringatan bahwa orang-orang yang mendekat atau mencoba merusak pagar akan menjadi sasaran.

Pada 31 Maret, sehari setelah protes pertama berlangsung, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memuji pasukan Israel karena “menjaga perbatasan negara”.

“Bagus untuk prajurit kami,” tulisnya dalam sebuah pernyataan.

Pada 1 April, Menteri Pertahanan Israel Avigdor Lieberman menolak setiap penyelidikan independen atas pembunuhan tersebut. “Tidak akan ada hal semacam itu di sini. Kami tidak akan bekerja sama dengan komisi penyelidikan,” katanya kepada radio publik Israel.

Lieberman memperingatkan pada 3 April bahwa pengunjuk rasa yang mendekati perbatasan antara Gaza dan Israel akan menempatkan “hidup mereka dalam bahaya”. (*)

Komentar

Berita Terbaru