oleh

Zonasi, Zona Siswa Pintar?

Opini Oleh : Junaidi Gaffar
Lecturer di Surya University

PENANEGERI, Opini – Saya ikut mengalami riuh rendah mendaftarkan siswa dalam sistem zonasi tahun ini. Kebetulan salah seorang keponakan kami mau masuk SMA.

Berhubung Ibunya sedang kurang sehat dan Bapaknya sedang tugas di luar negeri, maka jadilah saya diminta untuk mendaftarkan sang ponakan.

Sesuai dengan wilayah tempat tinggal sang ponakan yakni di kawasan Billy Moon Pondok Kelapa, Jakarta Timur, maka sekolah terdekat dari rumah adalah SMAN 81, SMAN 61, dan SMAN 71.

Target masuk program IPA SMAN 81 yang hanya berjarak 500 meteran dari rumah kelihatannya harus dilupakan. Batas 113 siswa yang diterima melalui jalur zonasi ternyata telah penuh dengan siswa yang memiliki rata-rata nilai di atas 92. Nilai yang tinggi sekali. Sementara nilai sang ponakan kurang nol koma sekian dari 90. Padahal SMA 81 hanya berjarak 500 meteran saja dari rumah.

Beralih ke SMAN 61 yang berjarak 2 km pun demikian. Nilai batas minimal sudah di atas 90 untuk program IPA.

Mau tidak mau sekolah terakhir dalam 3 sekolah tersebut adalah SMAN 71. Di sini, sang ponakan masih bisa berada di posisi tengah dari 73 kursi yang tersedia. Tapi, tentu akan deg-degan juga karena datanya terus bergerak cepat.

Melihat apa yang terjadi ini, tentu agak mengagetkan juga bahwa lulusan SMP di Jakarta Timur yang berada dalam 1 zona memiliki rata-rata UN yang tinggi sekali. Dilihat dari wilayah yang meliputi Duren Sawit, Pondok Kelapa, Pondok Bambu, Klender dan Cipinang rasanya apa yang terjadi pada 3 sekolah di atas jadi sesuatu yang luar biasa.

Dugaan saya semula dengan sistem zonasi akan lebih banyak siswa yang dekat ke area sekolah yang diterima. Kenyataannya tidak juga.

Ada dua sebab. Pertama, luas kawasan yang dicover sekolah. Idealnya sistem zonasi benar-benar dilaksanakan dengan menghitung jarak terdekat dan baru kemudian nilai siswa.

Dalam kasus ini rupanya hal tersebut tidak berlaku. Semua siswa yang berada dalam zona yang cukup luas berada dalam posisi yang sama untuk berebut kursi.

Dengan luasnya area cover, maka tetap saja siswa-siswa dengan nilai tertinggi yang berpeluang masuk ke tiga sekolah yang sampai saat ini dianggap memiliki prestasi terbaik di Jakarta Timur itu.

Siswa dengan jarak terdekat tetap saja harus mencari sekolah lain yang berjarak cukup jauh dari rumahnya karena nilai yang tidak memadai.

Kedua, jika boleh curiga, mungkin perlu diteliti apakah benar mereka yang masuk ke tiga sekolah tersebut benar-benar berdomisili di zonanya atau mereka yang pindah domisili demi bisa masuk ke sekolah yang mereka tuju.

Merujuk pada tujuan awal sistem zonasi maka, rasanya Pemda DKI pada waktu mendatang dituntut untuk konsisten dengan sistem zonasi ini.

Artinya, benar-benar siswa yang berada dalam jarak terdekatlah yang mendapat prioritas. Untuk itu luas wilayah atau area cover perlu dikurangi. Misalnya maksimal 3 kelurahan saja. Jika tidak, maka sistem zonasi ini akan tetap saja menghasilkan masalah seperti yang sudah-sudah.

Kita tahu sistem zonasi ini sebuah langkah penting dalam memperbaiki dunia pendidikan kita agar tidak terjebak pada atribut favorit dan lebih berlaku sebagai bimbingan belajar ketimbang melakukan proses pendidikan secara holistik baik transfering knowledge maupun membentuk pekerti mulia.

Ini juga dimaksud mengikis diskriminasi pendidikan yang telah berjalan lama. Oleh karena itu, idealnya sistim zonasi ini disempurnakan dan dimaksimalkan agar apa yang menjadi tujuan utamanya dapat terwujud.

Saya orang yang dari dulu tidak tergila-gila dengan atribut sekolah favorit. Bagi saya belajar dimana saja boleh. Yang penting motivasi belajarnya.

Waktu SD guru saya Pak Midan almarhum berjalan melintas sawah dan rawa serta mendaki bukit yang terjal untuk sampai ke sekolah kami di kaki Merapi.

Semangatnya memicu motivasi kami. Maka tiap beliau masuk kami semua bersemangat belajar dan Alhamdulillah anak didiknya jadi orang yang berguna di bidang masing-masing.

Saya juga masih percaya pada yang dikatakan Prof Yohanes Surya, tidak ada siswa yang bodoh, yang ada adalah siswa yang tidak bertemu guru yang tepat. Sistem zonasi dimaksudkan agar siswa yang secara akademik lemah bisa bertemu guru yang tepat.

Hingga mereka bisa berkembang menjadi lebih baik. Sistem zonasi itu langkah jitu, sayang kalau implementasinya masih setengah hati. Tabik!

Oleh Junaidi Gaffar
Lecturer di Surya University

Komentar

Berita Terbaru